Jumat , 24 Maret 2017
Home / Kabar Kampus / Mahasiswa UII Kembangkan Aplikasi Peringatan Demam Berdarah
Universitas Islam Indonesia (UII)
Universitas Islam Indonesia (UII)

Mahasiswa UII Kembangkan Aplikasi Peringatan Demam Berdarah

Edupost.id – Banyaknya jumlah penderita demam berdarah mendorong Billy Sabella, mahasiswa Magister Teknik Informatika UII, mengembangkan aplikasi peringatan dini tentang bahaya demam berdarah. Ia menciptakan Early Warning System (EWS) yang mampu memprediksi waktu penularan penyakit tersebut di suatu daerah.

Dalam mengembangkan aplikasinya, Billy Sabella memakai sampel bantuan data kasus DBD di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, selama 10 tahun terakhir. Berpatokan pada data tersebut, aplikasi buatannya dapat memperkirakan usia rentan terjangkit dan kisaran jumlah penderita.

“Ada tiga faktor yang menjadi penyebab menularnya penyakit demam berdarah yaitu faktor host, faktor lingkungan, dan faktor perilaku. Semakin berkembangnya penyebaran penyakit demam berdarah menjadikan indikator penyebab penyebaran penyakit semakin bertambah,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara curah hujan, kelembaban udara, kelompok usia penderita demam berdarah dan kepadatan penduduk.

“Jadi wilayah dengan curah hujan tinggi, kelembaban tinggi, wilayah padat penduduk dan jumlah kelompok usia anak-anak akan meningkatkan penyebaran penyakit demam berdarah,” kata Billy.

Billy mencontohkan, dengan kelembaban udara 85-87 persen dan curah hujan 3-109 mm, kasus DBD diperkirakan akan menyerang anak usia 0-4 tahun dengan kemungkinan 94 persen, dan jumlah penderita berkisar 0-7 anak. Dengan aplikasi tersebut, orang tua terutama yang memiliki anak usia 0-4 tahun dapat mengantisipasi penyakit DBD. Salah satu caranya adalah menjaga anak-anak agar jangan sampai tergigit nyamuk aedes agypti dengan memasang kelambu pada tempat tidur anak dan memberikan lotion anti nyamuk ketika anak akan pergi bermain di luar rumah.

Sementara, Ketua Pusat Studi Informatika Medis FTI UII Izzati Muhimmah mengatakan penyakit DBD hampir selalu menjadi kasus endemik di beberapa daerah setiap tahunnya. “Antisipasi maupun penanganannya sering terseok-seok sehingga harus jatuh banyak korban. Di masa datang, kondisi semacam itu barangkali tidak harus terjadi lagi,” katanya.

Menurut dia, dengan mengetahui perkiraan kasus DBD tersebut, dinas kesehatan atau pengambil kebijakan yang lain diharapkan bisa mengantisipasi sekaligus menangani kasus DBD secara lebih tepat. (UII/IK-SS)

 

Check Also

Kejuaraan Taekwondo Tingkat Pelajar Diselenggarakan di UII

Kejuaraan Taekwondo Tingkat Pelajar Diselenggarakan di UII

Edupost.id- Kejuaraan Taekwondo Nasional Tingkat Pelajar memperebutkan trofi bergilir DKS Cup Kanisius Sengkan diselenggarakan  di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *