Senin , 24 Juli 2017
Home / Kabar Kampus / Olah Air Limbah, Mahasiswa Undip Gunakan Jerami dan Sekam Padi

Olah Air Limbah, Mahasiswa Undip Gunakan Jerami dan Sekam Padi

SEMARANG – Tim mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) berhasil menemukan solusi pengolahan air limbah yang ada di TPA jatibarang. Mereka menggunakan limbah jerami dan sekam padi sebagai bahan dasar pembuatan adsorben logam berat air lindi berbasis nano teknologi yakni nano arang aktif (NARA).

 

Tim mahasiswa itu terdiri dari Hilma Muthi’ah, Rusyda Syahidah, Rizki Januarita dan Azka Azizah yang tergabung dalam tim PKM-P Undip. Hilma Muthi’ah selaku Ketua Tim PKM-P mengungkapkan bahwa di TPA Jatibarang timbunan sampah yang masuk per harinya mencapai 6500m3, dari timbunan sampah ini ketika terkena air hujan akan menghasilkan cairan yang disebut air lindi.

“Air lindi yang berada di TPA Jatibarang ini dibiarkan mengalir dari kolam menuju sungai Kreo, Semarang. Ironinya masyarakat sekitar sungai tersebut memanfaatkan air tersebut untuk kegiatan sehari-hari seperti mencuci, mandi dan sebagainya. Padahal air lindi mengandung logam berat sepeti timbal, besi dan mangan yang sangat berbahaya bagi tubuh,” paparnya, seperti dilanisr laman Undip.

Hilma menambahkan, limbah jerami dan sekam padi masih belum dimanfaatkan maksimal. Padahal jerami dan sekam padi merupakan 43% dari produk limbah pertanian yang ada di Indonesia, mencapai 32 juta ton per tahun. “Oleh karenanya, kami dari tim PKM-P ingin memberikan inovasi dalam mereduksi dan meningkatkan nilai jual limbah jerami dan sekam padi dengan menjadikannya bahan dasar pembuatan adsorben logam berat air lindi berbasis nano teknologi,” jelasnya.

Ia memaparkan, proses penyerapan logam berat oleh jerami dan sekam padi diawali dengan melakukan beberapa proses seperti membuat nano arang aktif (NARA). Limbah jerami dan sekam padi dicuci dan dikeringkan kemudian di tumbuk dan direndam dengan larutan HCl kemudian dinetralkan kembali dengan larutan NaCl. Setelah itu, tumbukan dari limbah jerami dan sekam padi tersebut dipadatkan/dinanokan sampai ukurannya mencapai  800-200 nm dan ukuran mikro arang aktif mencapai 10 mikron.

Mekanisme penyerapan logam berat pada air lindi dilakukan dengan cara mengalirkan air lindi dengan penyaringan horisontal dengan tiga media yakni krikil, pasir silika dan pasir pantai terlebih dahulu untuk mengurangi beban penyaringan. Setalah itu kemudian dialirkan ke nano arang aktif untuk diserap logam beratnya. Hasil yang didapatkan merupakan air tanpa kandungan logam yang sudah dapat dibuang ke badan air. (IK-SS)

Check Also

Guru garis Depan

SK CPNS Guru Garis Depan Telah Resmi Ditetapkan

Edupost.id – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah resmi menetapkan Surat Keputusan (SK) bagi 2.806 Guru …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *