Minggu , 22 Januari 2017
Home / Kabar Kampus / Pemilihan Dekan, Rektor UGM Dituding Cederai Demokrasi
Zainal Arifin Mochtar, dosen FH UGM
Zainal Arifin Mochtar, dosen FH UGM menilai Rektor cederai demokrasi

Pemilihan Dekan, Rektor UGM Dituding Cederai Demokrasi

Edupost.id – Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menggelar Pemilihan Dekan (Pildek) untuk masa jabatan 2016-2021. Namun, kampus ini dinilai gagal menerapkan demokrasi yang baik dalam proses pemilihan tersebut. Rektor dan tim seleksi yang dibentuknya telah dianggap menafikkan proses demokrasi di tingkat fakultas.

Rektor disebut telah membalik hasil pemringkatan di beberapa fakultas, yaitu Fakultas Hukum, Fakultas Kedokteran Hewan, Fakultas Kedokteran Gigi, dan Sekolah Vokasi. Hal ini terungkap dalam acara mimbar bebas yang digelar Fakultas Hukum UGM, hari ini (14/9).

Di Fakultas Hukum, Sigit Riyanto, sebagai calon dekan yang mendapat skor tertinggi dari penilaian tim seleksi tingkat fakultas justru dianggap menjadi peringkat ke dua di penilaian tingkat universitas. Sementara, calon dengan posisi ke dua tingkat fakultas menjadi peringkat pertama di tingkat universitas. Kondisi inilah yang membuat rektor dinilai mencederai demokrasi di kampus.

“Ini bukan soal jabatan Dekan Fakultas Hukum, ini soal proses demokrasi yang coba dibunuh. Anda bisa bayangkan, proses demokrasi yang ada di fakultas memberikan penilaian yang penilaiannya itu sama dengan penilaian yang dilakukan oleh universitas, tapi kok bisa hasilnya penilaian di tingkat fakultas berbeda 180 derajad dengan penilaian yang ada di tingkat universitas,” ujar Zainal Arifin Mochtar, dosen FH UGM dalam orasi yang disampaikannya.

Ditambahkan, Sigit adalah calon dekan yang telah mengantongi 70 % dukungan departemen di tingkat fakultas. Dari 11 depatemern di fakultas ini, delapan departemen menyatakan mendukung pencalonan Sigit. Pada pemeringkatan di Senat Fakultas, ia juga menduduki posisi pertama dengan nilai 3.389.

Zainal menuding, Rektor UGM telah melakukan kesalahan besar dengan tidak mengindahkan suara fakultas. Menurutnya, penilaian yang dilakukan timsel bentukan rektor tidak dapat bekerja secara objektif. “Penilaian dilakukan dengan pemaparan visi misi selama beberapa menit di depan timsel yang terdiri dari orang-orang di luar fakultas yang tidak mengenal paa kandidat dibanding rekan – rekan dosen dan senat di tingkat fakultas yang memberikan penilaian dengan melihat track record selama puluhan tahun bekerja,” kata Zainal.

Oleh karenanya, dosen di Fakultas Hukum menyanggah hasil penilaian timsel universitas. Sebanyak 65% dosen telah membubuhkan tandatangan menolak hasil penilaian timsel universitas serta kembali meneguhkan dukungan untuk Sigit. Pemberian dukungan ini menurut Zainal dilakukan tanpa intimidasi dan tanpa paksaan sebagai bentuk haapan dan perlawanan paa dosen FH terhadap penilaian timsel universitas.

Dekan Fakultas Hukum UGM, M. Hawin mengatakan, sejak dahulu pemilihan dekan di FH selalu menjunjung tinggi proses demokrasi. Dan baru kali ini, rektor tidak mendengarkan aspirasi fakultas.

“Kalau rektor menganggap aspirasi fakultas tidak penting, itu salah. Harapan saya, rektor mendengarkan aspirasi fakultas dan menetapkan Sigit menjadi dekan,” katanya. (Andi)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *