Jumat , 20 Januari 2017
Home / Kabar Kampus / Pupuk Alami dari Limbah Tebu dan Udang Karya UNY
pupuk-dari-limbah-tebu-dan-udang-karya-uny
Pupuk Alami dari Limbah Tebu dan Udang Karya UNY (foto: UNY)

Pupuk Alami dari Limbah Tebu dan Udang Karya UNY

Edupost.id – Limbah ampas tebu dan cangkang  udang umumnya dimanfaatkan antara lain untuk pembuatan pulp dalam industri kertas, campuran dalam pembuatan paving block, serta pembuatan tisu. Di tangan lima mahasiswa UNY, kedua limbah tersebut dikembangkan menjadi pupuk alami. Melalui penelitiannya berjudul “Aplikasi Pupuk Nanoteknologi SRFs Berbahan Dasar Cangkang Udang dan Kulit Tebu”, mereka membuat NANO-Chitosan SilicaSlow Release Fertilizers (SRFs).

Kelima mahasiswa itu ialah Dinar Indah Lufita Sari, Muhammad Wahyu Arif, Ferdinand Dos Santos dari prodi Kimia, Afrizal Lathiful Fadli (Fisika) dan Absari Hanifah (Biologi).

Dinar menerangkanmaraknya penggunaan pupuk kimia semakin memperparah kondisi lahan pertanian karena penggunaan secara terus menerus pupuk jenis tersebut akan merusak kondisi tanah akibat unsur hara yang tidak seimbang. Karena itu, mereka mengembangkan pupuk SRFs yang merupakan pupuk lepas lambat dengan mekanisme pelepasan unsur hara secara berkala mengikuti pola penyerapan unsur hara dengan sintesis mikronutrisi seperti tembaga(Cu), besi (Fe), seng (Zn) dan beberapa mikronutrisi lainnya.

“Solusi yang kami tawarkan untuk meningkatkan efektivitas penggunaan pupuk adalah melalui pupuk nanopartikel SRFs dengan bahan dasar silika (Si) yang  diperoleh dari limbah kulit tebu dan kitosan dari limbah cangkang udang,” ungkapnya.

Ia menambahkan, penelitian diawali dengan menyiapkan alat dan bahan dalam proses pembuatan pupuk. Setelah itu, dilakukan Pre-treatment yang merupakan tahap awal yang sangat menentukan kualitas produk SRFs yang akan disintesis. Yang termasuk dalam tahapan ini antara lain pemurnian (purifification) dan pengecilan ukuran (sizereduction).

Proses pemurnian sederhana dilakukan untuk memisahkan komponen impurities yang tidak dikehendaki keberadaannya karena dapat menurunkan sifat-sifat spesifik silika, kitosan, dan zeolit. Impurities fisis dapat dipisahkan dengan cara filter atau penyaringan dan leaching dari butiran batu lain, plastik, logam daun dan sebagainya.

Selanjutnya, proses formulasi nanosilika, nanokitosan dan aktivasi zeolit, granulasi, drying, dilanjutkan dengan uji efektivitas pupuk SRFs terhadap pertumbuhan dan hasil panen tanaman kacang tanah.

“Tahap terakhir dari penelitian adalah uji efektivitas pupuk SRFs terhadap pertumbuhan dan hasil panen tanaman kacang tanah. Uji efektivitas ini dilihat dari tingkat kecepatan pertumbuhan, kesuburan tanaman (kondisi batang dan daun, warna batang dan daun), hasil panen, dan jumlah unsur hara yang terbuang dalam saluran irigasi,” jelasnya. (UNY/Nisa)

Check Also

Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS)

Mahasiswa UNS Ciptakan Aplikasi Bimbingan Belajar Cariles

Edupost.ID- Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, berhasil …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *