Rabu , 20 September 2017
Home / Kabar Kampus / Tas Pencegah Asma Inovasi UB Raih Emas di Malaysia
Tas Pencegah Asma Inovasi UB Raih Emas di Malaysia
Tas Pencegah Asma Inovasi UB Raih Emas di Malaysia (UB dok.)

Tas Pencegah Asma Inovasi UB Raih Emas di Malaysia

Edupost.id – Tim Universitas Brawijaya (UB) berhasil meraih medali emas dalam kompetisi i-EIE (international Eureka Innovation and Exhibition) yang diadakan pada 25-27 Juli lalu di Universiti Kuala Lumpur Malaysia Spanish Institute (UniKL MSI). Tim gabungan Fakultas Teknik (FT) dan Fakultas Kedokteran (FK) ini menang berkat tas inovasinya yaitu SANBAV, Smart Android Bag for Asthma Prevention.

Tas tersebut merupakan suatu alat yang mampu membaca kondisi lingkungan sekitar pengguna penderita asma yang terintegrasi dengan smartphone. Apabila alat tersebut mengindikasikan kondisi yang berbahaya bagi pengidap asma, alarm akan berbunyi. Alat ini juga dapat dikalibrasi sesuai dengan kondisi tiap-tiap orang atau individu dan alat ini dilengkapi dengan panic button dimana ketika ditekan alat ini akan langsung mengirimkan pesan yang berisi lokasi dan tracking location kepada nomer tertentu yg telah disetting sebelumnya.

Alasan dibuatnya alat SANBAV tersebut yaitu karena banyaknya pengidap asma yang ada dan dapat meyebabkan kematian sehingga persentase orang meninggal bertambah akibat penyakit tersebut.Tim dari Universitas Brawijaya yang berhasil meraih prestasi pada lomba internasional yang bertujuan untuk menunjukkan inovasi, penemuan dan desain yang dihasilkan oleh pelajar dari berbagai negara di dunia terdiri dari Muhammad Fadlurahman (FT ’14), Bagas Priyo H. (FT ’15), M. Azzumardi Azra (FT ’15), Nadia Annizar (FK ’15), dan Astrid Lutfiana Jahmadi (FK ’15).

Salah satu tantangan yang dihadapi oleh tim tersebut ketika mempersiapkan dan membuat alat SANBAV yaitu ketika proses mengkolaborasi ilmu dari sisi engineer dan medical.

Muhammad Fadlurahman, ketua tim SANBAV menuturkan, pada proses tersebut lah yang membutuhkan waktu paling lama hingga sempat menimbulkan stres pada tiap anggotanya. “Kami memang sudah kenal selama setahun ini, tapi riset memerlukan biaya yang tidak sedikit dan menyita waktu. Alhamdulillah pada akhirnya bisa mendapat pencapaian ini dan menemukan kembali kebahagiaan, dan tidak lupa mengucapkan rasa syukur karena apa yang telah dilakukan selama ini,” ujarnya.  (UB/ IK-SS)

Check Also

Kucing

Kedokteran Hewan UB Ciptakan Terapi Sedot Lemak Kucing

Edupost.id  – Kucing yang menderita obesitas memiliki resiko penyakit komplikasi metabolic seperti penyakit jantung, penyakit gangguan liver, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *