Sabtu , 25 November 2017
Home / Kabar Kampus / Tongkat Pintar TI UB Juarai Kompetisi Desain Asia Pasifik
Tongkat Pintar TI UB Juarai Kompetisi Desain Asia Pasifik
Tongkat Pintar TI UB Juarai Kompetisi Desain Asia Pasifik

Tongkat Pintar TI UB Juarai Kompetisi Desain Asia Pasifik

Edupost.id – Tiga mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) berhasil menjuarai 8 Hours Students Asia Pacific Design Challenge (APDeC) 2017 . Tim tersebut digawangi oleh Roby Kurniawan,  Fachrezy Pangestu Widi, dan Destantri Anggun Rizky.

Kompetisi APDeC ini mengambil tema “Design for Special Population: Mobility & Sustainability”. Hanya dalam waktu delapan jam, peserta diharapkan dapat menghasilkan suatu konsep desain sesuai dengan masalah yang dihadapi. Selain disesuaikan dengan tema desain yang berkelanjutan, desain tersebut harus sesuai dengan kebutuhan khusus para penggunanya.

Dalam tantangan ini, mahasiswa bisa mendapatkan informasi dari observasi dan wawancara langsung dengan populasi berkebutuhan khusus, seperti orang dengan keterbatasan fisik, pengguna lanjut usia, juga anak kecil. Sebanyak 19 tim beranggotakan tiga orang mengikuti tantangan ini, dua diantaranya merupakan peserta dari luar Indonesia.

Sementara itu, perwakilanTim Brawijaya 1 Roby Kurniawan sedikit bercerita tentang desain produk yang mereka buat. Produk ini bernama Can Helper (Cane and Cap Helper for Blind People). Desain ini terdiri dari dua alat, cane helper berupa tongkat dan cap helper berupa topi.

Pada perangkat pertama, cane helper, terdapat sensor untuk mendeteksi objek disekitar radius 2 meter. Tongkat ini bergetar ketika mendeteksi sebuah objek. Kelebihannya adalah tongkat ini bisa dilipat seperti tripod dan dibuat dengan material yang kuat. “Semua itu kita sesuaikan dengan kebutuhan usernya,” kata mahasiswa asal Banyuwangi ini.

Kemudian perangkat kedua berupa topi cap helper. Untuk melengkapi tongkat, cap helper  dilengkapi sensor yang berfungsi mendeteksi benda yang berada di depan atau diatas kepala. Diharapkan sensor ini membantu mobilisasi para penyandang tuna netra dan mencegah mereka menabrak objek disekitar kepala mereka.

Untuk menyelesaikan kompetisi ini, tim harus menerjemahkan hasil wawancara dan observasi pengguna ke sebuah produk yang bisa memenuhi kebutuhan mereka. Tim Brawijaya 1 mendapatkan user penyandang tuna netra. “Jadi kita benar-benar menggali informasi secara mendalam,alat yang dibutuhkan user itu seperti apa?,”katanya.  (UB/IK-SS)

 

Check Also

Mahasiwa UB Atasi Sampah dengan Aplikasi “Dalang”

Edupost.id – Sampah yang menumpuk kerap menimbulkan masalah bagi lingkungan. Daur ulang menjadi salah satu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *