Minggu , 23 April 2017
Home / Kabar Kampus / UGM Bahas Masa Depan Kebinekaan Dalam Kuliah Umum
Universitas Gadjah Mada (UGM)
Universitas Gadjah Mada (UGM)

UGM Bahas Masa Depan Kebinekaan Dalam Kuliah Umum

Edupost.id- Ditengah maraknya perselisihan antar golongan beberapa bulan terakhir, generasj milenial memegang peran penting untuk menjadi tulang punggung angsa dalam menjaga nilai pluralisme yang menjadi pilar bangsa.

 

 

Deputi V Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-isu politik, hukum dan HAM, Jaleswari Pramodharwardani mengatakan. “Kita merasa sedih dengan kegaduhan politik yang sepertinya semakin mempertajam sikap anti kebinekaan. Dalam situasi ini, anak muda mustinya bisa melakukan hal yang lebih,” ungkap Dani saat memberikan kuliah umum di Fakultas Hukum UGM akhir pekan lalu.

 

Dalam kuliah umum Dani turut menyampaikan, kegaduhan politik yang terjadi menurutnya memperlihatkan situasi ketika Pancasila seolah tidak menjadi ideologi yang populer dan dianggap menarik sejak sepuluh tahun lalu.

 

“Persoalan kebinekaan sudah muncul jauh sebelum peristiwa 2016 kemarin. LIPI pernah melansir penelitian tahun 2007, Pancasila adalah sesuatu yang tidak populer lagi di kalangan mahasiswa,” tuturnya.

 

Situasi yang terjadi menunjukan kegaaglan generasi lama dalam menangani potensi pelemahan nilak kebinekaan yang telah muncul 10 tahun lalu. Sikap generasi muda saat ini menjadi kunci menentukan bagaimana keadaan Indonesia dalam 10 tahun mendatang.

 

“Pentingnya menunjukan ide kebaikan bukanlah sesuatu yang tidak menarik. Anak muda bisa menemas hal-hal baik dengan ide kreatif dan strategi dan pasti bia menjadi suatu yang menarik,” harap Dani.

 

Sementara itu, dosen Fakultas Hukum UGM, Oce Madril mengingatkan kebinekaan telah menjadi nilai yang melekat pada bangsa Indonesia berangkat dari keberagaman yang diterapkan dalam aturan positif.

 

“Kita sudah melewati berbagai macam fase, dan sikap saling menghargai di antara bangsa Indonesia terlihat di konstitusi. Kalau kembali memperdebatkan itu berarti kita kembali ke zaman ketika belum terhimoun menjadi bangsa Indonesia,” ucap Oce.

 

Ia juga berharap, mahasiswa dapat berperan penting dalam merawat kebinekaan dengan tetap menegakan hukum dan dengan tidak melakukan tindakan yang merusak tatanan yang sudah terbangun selama ini.

 

“Hukum harus dijadikan acuan. Kalau kita merusak keajekan ini implikasinya akan panjang karena akan mengubah norma dasar yang dengan bangsa berdiri,” pungkasnya. (Inan)

Check Also

Bersiap Ekspedisi Thailand, Atlet Mapagama Perketat Latihan

Bersiap Ekspedisi Thailand, Atlet Mapagama Perketat Latihan

Edupost.id – Tim atlet mahasiswa pencinta alam UGM (Mapagama) bersiap melakukan ekspedisi “Cave Exploration: Under the …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *