Sabtu , 25 Februari 2017
Home / Kabar Kampus / UGM Kembangkan Mikroalga Strain Lokal Sebagai Bioenergi
UGM Kembangkan Mikroalga Strain Lokal Sebagai Bioenergi
UGM Kembangkan Mikroalga Strain Lokal Sebagai Bioenergi

UGM Kembangkan Mikroalga Strain Lokal Sebagai Bioenergi

Edupost.id- Peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Eko Agus Suyono berhasil mengembangkan mikroalga strain lokal yang berpotensi sebagai sumber bioenergi. Penelitian yang dilakukan sejak tahu 2004 silam.

berupaya mencari alternatif solusi untuk mengatasi krisis energi di Indonesia. Dia melihat adanya potensi besar mikroalga sebagai sumber bioenergi. Selain itu, keberadaan mikroalga yang cukup berlimpah di Indonesia ternyata belum dimanfaatkan secara optimal.

“Indonesia memiliki potensi besar untuk mikroalga karena sebagian besar wilayah sekitar 70 persen berupa laut. Sementara keanekaragaman mikroalga di Indonesia sangat besar untuk dikembangkan menjadi bioenergi, diantaranya Tetraselmis spp. dan konsorsium mikroalga strain Glagah,” urai Eko, Senin (13/2) di Fakultas Biologi UGM.

Eko mulai menggunakan isolat lokal yang sudah dikembangkan di Indonesia yaitu Tetraselmis sp. strain Ancol dan  beberapa strain lokal lainnya. Hasilnya, dari single strain tersebut dan fermentasi memakai Saccharomyces cerevisiae mampu menghasilkan bioetanol. Melalui inkubasi selama 48 jam dapat diproduksi 0,36 g etanol/g biomassa. Hasil tersebut setara dengan hasil bioetanol tertinggi yang pernah dilaporkan dalam publikasi penelitian di Korea.

Meskipun terbukti mampu menghasilkan bioetanol, namun kultivasi mikroalga tersebut  belum dapat menghasilkan biomassa dalam jumlah cukup besar untuk memproduksi bahan bakar nabati yang memadai.

Eko pun terus meneliti dan mengembangkan isolat mikroalga lokal yang berhasil dia isolasi dari pantai Glagah, Kulon Progo, DIY yang dinamai konsorsium strain Glagah.

Dia lalu mencoba menggunakan konsorsium atau kumpulan mikroalga strain Glagah tersebut, yang ternyata bersimbiosis dengan bakteri untuk bahan baku biodisel.

“Hasilnya jauh lebih baik dibanding menggunakan single strain maupun multiple strain mikroalga. Bisa dihasilkan biomassa dalam jumlah lebih besar,” papar pria yang kini menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian Masyarakat, Kerja Sama dan Alumni Fakultas Biologi ini.

“Melalui sistem bioefinery ini bisa menekan biaya produksi biodisel sampai tiga kali lipat lebih murah,” urainya.

Menurutnya, mikroalga dapat digunakan sebagai bahan baku untuk bahan bakar nabati. Penggunaan spesies ini pun tidak bersaing dengan tanaman pangan dan tidak mengurangi luas lahan tanaman pangan.”Ke depan perlu dilakukan berbagai penelitian lebih mendalam agar mikroalga lokal dengan bakteri simbion ini bisa digunakan sebagai bahan bakar alternatif terbarukan untuk mengatasi krisis energi nasional,”pungkasnya. (Inan)

Check Also

UGM kampanyekan perlucutan senjata nuklir

UGM Kampanyekan Perlucutan Senjata Nuklir

Edupost.id – Institute of International Studies (IIS) Departemen Hubungan Internasional UGM tengah gencar melakukan kampanye …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *