Selasa , 23 Mei 2017
Home / Kabar Kampus / UI Kembali Lantik Dua Guru Besar Bidang Keilmuan Sosial

UI Kembali Lantik Dua Guru Besar Bidang Keilmuan Sosial

Edupost.ID, Depok – Rektor Universitas Indonesia (UI) Muhammad Anis, kembali mengukuhkan dua Guru Besar di lingkungan UI yaitu Adi Zakaria Afiff dan Billy K Sarwono pada Rabu (19/8) di Balai Sidang UI, kampus Depok. Kedua profesor tersebut menambah jumlah Guru Besar yang dimiliki UI yang kini mencapai 301 profesor.

Adi Zakaria merupakan Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Manajemen Pemasaran Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI (FEB UI). Sedangkan Billy Sarwono merupakan Guru Besar Tetap bidang Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI (FISIP UI).

Dalam pengukuhannya, Adi Zakaria memaparkan pidato berjudul “Aksentuasi Pendekatan Promise Management dalam Disiplin Pemasaran: Dampaknya Pada National Brands-Nation Brand.” Pidato ini mengungkapkan kekhawatiran Adi atas perkembangan daya saing Indonesia. Berdasarkan Global Competitive Index tahun 2014 -2015, Indonesia berada pada urutan yang cukup baik, yaitu ke 34 dari 144 negara dunia yang diukur, namun disini juga terlihat bahwa Indonesia masih kalah kompetitif dibandingkan Thailand, Malaysia dan Singapura.

Adi memaparkan bahwa suatu negara yang didalam perekonomiannya terdapat banyak national brands (merek-merek nasional) dengan brand equity yang tinggi, akan memiliki daya saing yang lebih baik dibandingkan dengan negara yang memiliki sedikit national brands yang kuat. Namun sayangnya, baik dari segi pangsa national brands maupun nation brand Indonesia mengindikasikan daya saing Indonesia yang belum optimal.

Untuk itu, Adi mengajukan Promise Management sebagai sebuah pendekatan yang sejalan dengan kondisi di Indonesia tersebut. Pendekatan ini menjadikan konsumen sebagai pusat dari business universe yang menfokuskan seluruh sumber daya manusia perusahaan (tidak hanya Divisi/Bagian Pemasaran) pada hubungan perusahaan dengan konsumen, dan bukan pada marketing mix atau marketing programs.

Billy Sarwono menyampaikan pidato pengukuhannya berjudul “Literasi Media untuk Kesetaraan Gender di Indonesia.” Dewasa ini, media banyak mengkonstruksikan realitas untuk memenuhi kepentingan pemilik media atau bahkan memenuhi kebutuhan pasar. Misalnya media cenderung menggambarkan stereotip perempuan yang muda, cantik, lemah, emosional; sebaliknya laki-laki merupakan sosok kuat, pemberani, tegas dan mandiri.

Dampak konstruksi bias gender dalam media tidak hanya mempengaruhi perilaku individu melainkan juga budaya masyarakat. Keprihatinan tentang misrepresentation perempuan dalam media dan dampaknya terhadap anak-anak dan remaja ini mendorong Billy Sarwono, atau biasa dipanggil Oni, untuk menekuni studi tersebut sejak 1995.

Dalam perpektif ilmu komunikasi, maka solusi yang bisa dilakukan adalah mendorong anak-anak, remaja dan khalayak lain menjadi lebih kritis terhadap sajian media melalui literasi media. Melalui pendidikan literasi media, seseorang akan memahami bahwa sebagian besar isi media merupakan hasil konstruksi. Guru dan orang tua dapat menjadi ujung tombak usaha pendidikan literasi media, terutama bagi anak dan remaja. (IK-SS)

Check Also

SBMPTN

Pendaftaran SBMPTN Masih Dibuka hingga 9 Mei

Edupost.id – Pendaftaran Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) masih dibuka hingga besok, 9 Mei …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *