Selasa , 25 Juli 2017
Home / Kabar Kampus / Waspada Kejahatan Cyber, UAD Gelar Seminar Security VS Forensik

Waspada Kejahatan Cyber, UAD Gelar Seminar Security VS Forensik

Edupost.ID – Keamanan dalam proses jaringan komunikasi merupakan hal yang penting. Mengingat “cyber crime” atau kejahatan melalui dunia maya marak terjadi di Indonesia. Menurut data statistik, untuk insiden domain go.id pada Triwulan I 2015, serangan terbesar berupa web defacement disusul dengan serangan dan/atau penyusupan malware.

Hal ini terjadi akibat kurangnya kewaspadaan dan kesadaran terhadap sistem keamanan informasi. Oleh karena itu, keamanan informasi menjadi hal yang penting dan wajib diketahui bagi kita pengguna teknologi informasi dan komunikasi.

Program studi Sistem Informasi(SI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mengadakan seminar Nasional Security vs Forensic untuk menjawab tantangan ini, Selasa, (2/6) di Kampus 3 UAD. Turut hadir di seminar ini Abrao Ximenes dari Timor Leste sebagai penggiat keamanan informasi di komunitas Kali Linux Indonesia, Dedy Hariyadi yang saat ini sedang menempuh studi S2 Forensika Digital UII, dan Dr. Imam Riadi pengamat sekaligus Dosen Sistem Informasi UAD.

Abrao membawakan materi tentang uji keamanan jaringan nirkabel dan solusi pengamanan jaringan nirkabel. Dedy membawakan materi Forensik Seluler pada ponsel bersistem operasi android dengan fokus forensik BBM dan Dr. Imam Riadi memberikan tanggapan dan tantangan pengembangan serta riset bidang keamanan dan forensik.

Dalam sistem keamanan informasi, penanganan insiden memegang peranan penting dalam mengidentifikasi serangan digital. Menurut Digital Analysis Forensic Team (DFAT) Puslabfor Mabes Polri, barang bukti berupa digital mengalami peningkatan setiap kasus. Sebagai contoh pada tahun 2010, barang bukti digital berupa ponsel sekitar 55% sedangkan pada tahun 2013 mencapai 89%.

Kegiatan ini disambut antusias oleh mahasiswa maupun masyarakat umum, terlihat dari jumlah peserta 200 orang baik dari mahasiswa UAD dan umum. Tidak hanya seminar, setelah istirahat siang dilanjutkan pelatihan dengan peserta terbatas sebanyak 30 orang. Pelatihan ini memberikan materi uji keamanan lanjutan oleh  Abrao Ximenes dan pelatihan dasar forensik menggunakan sistem operasi Linux yang disampaikan oleh Dedy.

“Melalui pengetahuan forensik akan membangun kewaspadaan dalam pemafaatan teknologi informasi dan membentuk ekosistem keamanan dalam berkomunikasi,” kesimpulan dari panitia Semnas. (Nurfi)

Check Also

Guru garis Depan

SK CPNS Guru Garis Depan Telah Resmi Ditetapkan

Edupost.id – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah resmi menetapkan Surat Keputusan (SK) bagi 2.806 Guru …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *