Rabu , 7 Desember 2016
Home / Kabar Sekolah / Antisipasi Bencana, Pemkab Sleman Bentuk Sister School
Antisipasi Bencana, Pemkab Sleman Bentuk Sister School
Antisipasi Bencana, Pemkab Sleman Bentuk Sister School (foto: safablogpot)

Antisipasi Bencana, Pemkab Sleman Bentuk Sister School

Edupost.ID – Sebagai salah satu derah yang rawan bencana alam, Kabupaten Sleman berkomitmen melakukan penguatan mitigasi bencana di berbagai sektor. Di sektor pendidikan, pemerintah setempat tengah mengembangkan “sister school” atau sekolah penyangga.

Dalam program ini, sekolah yang berada di daerah rawan bencana dipersaudarakan melalui pembuatan MOU paseduluran sekolah dengan sekolah penyangga yang berada di wilayah yang relatif aman. Saat terjadi kondisi darurat, seluruh komponen sekolah yang terdampak bencana akan dipindahkan ke sekolah penyangga supaya kegiatan belajar mengajar tetap berjalan.

“Kita prioritaskan di sekolah – sekolah yang berpotensi bencana. Tapi nantinya tidak menutup kemungkinan akan semua sekolah, karena memang tingkat kebencanaan di Kabupaten Sleman bisa dikatakan merata, utara selatan timur barat ada semua,” kata Bupati Sleman, Sri Purnomo.

Meski tak diharapkan terjadi, resiko bencana tetap harus diperhatikan dengan kesiapan dan kewaspadaan segenap masyarakat. Dalam hal mitigasi bencana, Pemkab tidak hanya berupaya meminimalisir jumlah korban namun juga memastikan proses belajar mengajar anak didik tidak terhambat akibat terjadinya bencana.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Kunto Riyadi menyebutkan, sampai saat ini telah terbentuk 20 “sister school”, delapan sekolah siaga bencana dan 39 organisasi relawan dengan jumlah relawan 1512 orang. Sister school berada di daerah lereng Merapi, seperti di Kecamatan Cangkringan, Turi, Pakem, Ngemplak, dan Ngaglik.

Beberapa contoh sister school di antaranya, SD Tarakanita Ngrembesan Turi dengan sekolah persaudaraannya SMP Alosius Turi, serta SD Pandanpuro II dengan sekolah persaudaraannya SD Muh Pakem. SMPN 2 Cangkringan dipersaudarakan dengan SMPN 1 Cangkringan, serta SMAN 1 Cangkringan dengan SMAN 1 Pakem.

“Dengan adanya sekolah penyangga, koordinasi dalam menjaga keberlangsdungasn ini lebih terkonsep. Keperluan efakuasinya jadi lebih terarah, sehingga pernasnganan bisa lebih cepat,” ujar Kunto. (Andi)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *