Jumat , 31 Maret 2017
Home / Kabar Sekolah / Berawal Dari Kritik Siswa, MAN Yogyakarta 2 Raih Adiwiyata Nasional

Berawal Dari Kritik Siswa, MAN Yogyakarta 2 Raih Adiwiyata Nasional

Edupost.ID, Yogyakarta – Tahun 2012, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Yogyakarta 2 adalah sekolah yang panas, kotor, dan berdebu. Tak ada kesejukan di sekolah ini. Namun setelah dua tahun berlalu, siapa sangka sekolah ini mengalami perubahan besar hingga akhirnya mampu meraih predikat Sekolah Adiwiyata Nasional.

Ditemui Edupost.ID, Jumat (28/8), Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum, Evi Effrisanti bercerita tentang perjalanan panjang sekolahnya hingga meraih predikat Sekolah Adiwiyata Nasional pada tahun 2014. Digawangi oleh 30 siswa yang tergabung dalam Agen Perubahan Lingkungan (APeL), sekolah ini mampu berbenah setahap demi setahap.

“Pada tahun 2012, ada sekelompok siswa yang sering melanggar tata tertib. Kemudian mereka dibina oleh BK. Setelah itu, mereka justru mengkritik kondisi MAN 2 yang kotor dan panas. Kemudian mereka sharing dengan BK. Dan mereka diminta BK untuk membuat program untuk mengatasi kotor dan panas ini,” kata Evi.

Ditambahkan Evi, pada saat itu ada sebuah LSM yang bernama SHIND yang membuat program Go Green School. Para pelajar diundang untuk mengikuti lomba yang diadakan oleh LSM itu. Beberapa siswa MAN 2 yang awalnya mengkritik sekolah tertarik untuk mengikuti lomba dan berhasil memenangkan beberapa perlombaan..

“Akhirnya, anak – anak yang tadinya bermasalah kita jadikan leader, kita formalkan dalam Agen Perubahan Lingkungan (APeL),” terang Evi. Dan puncaknya, sekolah ini mendapat bantuan pendampingan untuk menuju Go Green School. Dari sinilah, akhirnya MAN 2 Yogyakarta menjadi Go Green School.

Pada akhir tahun 2012, MAN 2 Yogyakarta mengikuti seleksi Sekolah Adiwiyata Kota Yogyakarta hingga Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Yogyakarta menganugerahi sebagai Sekolah Adiwiyata Kota Yogyakarta. Tak berhenti di situ, pada Mei 2013, prestasi sekolah ini meningkat dengan meraih predikat Sekolah Adiwiyata Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Selang satu tahun kemudian, MAN 2 Yogyakarta mengikuti seleksi Sekolah Adiwiyata Nasional. “Akhir Nopember 2014 kita dapat kabar bahwa kita berhasil menjadi Sekolah Adiwiyata Nasional. Bulan Desember kita dipanggil ke Jakarta untuk mendapat penghargaan Adiwiyata Nasional,” kata Evi.

Untuk menjadi sekolah adiwiyata, kata Evi harus ada empat komponen yang harus dipenuhi. Keempat komponen itu adalah kebijakan, sarana prasarana, kurikulum, dan kegiatan partisipatif. Keempat komponen ini saling memiliki keterikatan.

“Sekolah membuat kebijakan untuk melengkapi sarpras seperti tempat sampah di tiap ruang, dan sebagainya yang semuanya mengarah ke kehidupan sehat. Pada komponen kurikulum, guru – guru harus menyisipkan materi lingkungan saat mengajar. Pada kegiatan partisipatif, kita pernah membuat pelatihan higienitas makanan jajanan sekolah. Kita undang pedagang kaki lima di sekitar sekolah untuk diberi pelatihan mengenai higienitas makanan,” kata Evi menjelaskan.

Saat ini, kata Evi, pemandangan di sekolah sangatlah berbeda jika dibandingkan empat tahun yang lalu. Untuk mempertahankan kondisi ini, sekolah secara rutin menggelar agenda Jumat bersih.

“35 menit pertama seluruh siswa, guru dan pegawai membersihkan ruang masing – masing. Teknis pelaksanaannya dengan membersihkan lingkungan kelas bagi siswa dan lingkungan kerja terutama meja bagi guru pegawai,” imbuhnya.

Dilanjutkan Evi, dari masing-masing kelas, siswa yang tergabung dalam Apel (Agen Perubahan Lingkungan) akan membawa hasil pilahan sampah kelasnya. Sampah dipilah mulai dari kertas hingga botol minuman kemasan dan sudah dimasukkan dalam kantong yang disediakan di belakang masing-masing kelas. Selanjutnya hasil pilahan sampah tersebut akan disetor ke bank sampah untuk ditimbang dan dicatat sebagai tabungan yang nanti dapat diuangkan. (Andi)

Check Also

lomba karya tulis internasional

Lomba Karya Tulis Internasional bagi Anak-anak dan Remaja

Edupost.id – Lomba Karya Tulis Internasional bagi Anak-anak dan Remaja ini diadakan oleh Departemen Pengembangan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *