Selasa , 28 Maret 2017
Home / Kabar Sekolah / Buku Braile Jarang Ditemui di Sekolah Yaketunis
Buku-Braile-Jarang-Ditemui-di-Sekolah-Yaketunis
Anak Difabel di Yaketunis. (Foto: loveprojectid)

Buku Braile Jarang Ditemui di Sekolah Yaketunis

Edupost.id – Kebutuhan buku braile menjadi kebutuhan penting bagi Sekolah Luar Biasa (SLB) maupun sekolah penyelenggara pendidikan inklusi yang memiliki siswa tuna netra. Sayangnya, di sekolah Yayasan Kesejahteraan Tuna Netra Islam (Yaketunis), buku braile justru masih jarang ditemui.

“Buku braile untuk mapel jumlahnya sangat sedikit, belum bisa memenuhi kebutuhan semua siswa,” ujar kepala MTs Yaketunis Yogyakarta, Agus Suryanto.

Minimnya jumlah buku ini membuat pihak sekolah terpaksa tidak bisa memberikan fasilitas buku untuk setiap siswa. Agus mengaku, untuk setiap mata pelajaran hanya disediakan satu buku braile. Buku itupun hanya dipegang oleh guru mapel.

Di madrasah yang khusus menangani siswa tuna netra ini, hanya Al Quran braile yang jumlahnya mencukupi untuk kebutuhan seluruh siswa. Jumlah Al Quran braile yang tersedia dalam jumlah mencukupi inipun dimanfaatkan oleh pihak sekolah dengan sebaik – baiknya. “Setiap 15 menit pertama sebelum pelajaran, siswa diajak membaca Al Quran,” ujar Agus.

Minimnya jumlah buku pelajaran dalam bentuk braile, diakui Agus karena persoalan dana. Menurutnya, harga buku braile tergolong mahal, sehingga sekolah belum mampu berbelanja buku braile dalam jumlah banyak.

Pendapat yang sama diungkapkan oleh kepala SLB Yaketunis, Ambarsih. Keterbatasan buku mapel braile juga tergolong minim. Yang lebih parah, SLB ini tidak memiliki buku non fiksi dalm bentuk braile. “Seharusnya, setiap 15 menit sebelum pelajaran, anak – anak diajak membaca buku sebagai perwujudan budaya literasi. Tapi karena tidak ada buku braile non fiksi, akhirnya guru yng bercerita, dan anak – anak mendengarkan,” terang Ambar.

Meskipun kekurangan buku braile, baik Agus maupun Ambar mengaku tak pernah berhenti untuk mendidik siswa tuna netra. “SLB Yaketunis tetap mendampingi siswa tuna netra dengan memberikan bekal kemampuan untuk tetap bertahan hidup dengan kekurangan yang dimiliki,” kata Ambar. (Andi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *