Sabtu , 25 November 2017
Home / Kabar Sekolah / Cegah Perpecahan, BOPKRI Terapkan Pendidikan Interreligius
ilustrasi : Kerukunan Umat Beragama

Cegah Perpecahan, BOPKRI Terapkan Pendidikan Interreligius

Edupost.id, Yogyakarta – Perbedaan agama masih sering menjadi alasan utama timbulnya perpecahan di Indonesia.Untuk mencegah timbulnya perpecahan karena perbedaan agama itu, SMA BOPKRI 1 Yogyakarta mulai tahun ajaran 2016/2017 secara resmi menerapkan pendidikan interreligius dalam pengajaran keagamaan siswanya.

Itu disampaikan langsung Kepala SMA BOPKRI 1 Yogyakarta, Andar Rujito. “SMA BOPKRI 1 Yogyakarta akan menjadi pionir untuk melaksanakan pendidikan interreligius ini,” ujarnya.

Dijelaskan Andar, sistem pendidikan interreligius merupakan pendidikan yang tidak didasarkan pada ajaran agama tertentu. Sistem ini dirancang untuk membangun sebuah kesepahaman bahwa perbedaan agama tidak harus menjadi alasan untuk bertentangan. Proses pendidikan yang berlangsung bersumber dari nilai-nilai kebaikan yang ada dalam berbagai ajaran agama.

Meski menjadi salah satu sekolah yang berada di bawah yayasan kristen BOPKRI, pada prakteknya siswa tak lagi mendapat pelajaran Pendidikan Agama Kristen, tetapi mengajarkan sebuah sistem kebersamaan dalam perbedaan keagamaan. Ini menurut Andar akan semakin membuat siswa SMA BOPKRI 1 memiliki pemikiran yang lebih terbuka dan toleran. Pada sistem interreligius, siswa tidak lagi diajarkan tentang ajaran agama dan dogma Kristen. Selain itu juga tidak diperbolehkan melakukan kritik terhadap ajaran agama tertentu. Perbedaan dalam ajaran agama tidak dilihat sebagai halangan, tapi diberi ruang oleh semua pihak dengan saling menghormati.

Andar menambahkan, sekolahnya sebenarnya sudah mulai merintis sistem seperti ini sejak 2001. Namun, secara resmi baru akan diterapkan pada tahun ajaran mendatang. Sistem pendidikan ini menurutnya akan semakin membuka kesempatan kepada siswa non Kristen untuk masuk ke SMA BOPKRI 1 karena sekolah ini tak mengajarkan agama Kristen secara menyeluruh. Pemberian materi agama Kristen hanya menjadi materi tambahan yang diberikan khusus untuk siswa yang beragama Kristen. Disebutkan Andar, selama ini sebanyak 20 persen siswanya beragama non Kristen, termasuk di dalamnya beragama Islam.

Sementara itu, Waka Humas SMA BOPKRI 1, Sartana menjelaskan, pihak sekolah yakin untuk menerapkan sistem ini setelah dirinya menjadi salah satu penulis buku Pendidikan Interreligius. Buku ini sudah diluncurkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah beberapa waktu lalu.

Pembelajaran dalam pendidikan interreligius di SMA BOPKRI 1 nantinya akan berbentuk dialog yang didampingi oleh fasilitator. Nantinya, menurut Sartana, semua siswa dari agama apapun dapat menyatu dalam forum dialog. Titik tekannya adalah, perbedaan agama bukanlah alasan untuk bertentangan, justru perbedaan ini adalah anugerah. “Pembelajaran berbicara mengenai Indonesia, tidak lagi berbicara mengenai dogma,” ujar Sartana.

Untuk memastikan hasil pendidikan yang baik, pihak sekolah telah melakukan pelatihan untuk guru. Guru yang akan mendampingi siswa berasal dari latar belakang pendidikan agama Kristen. (Andi)

Check Also

Jerawat Lari Dilawan dengan 5 Bahan Ampuh Ini

Edupost.id – Bagi sebagian orang, jerawat sering menjadi musuh menyebalkan, terutama bagi kaum wanita. Jerawat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *