Selasa , 21 November 2017
Home / Kabar Sekolah / Monica, Siswa MTs Yapi Sleman Jadi Pembicara di Forum WHO
Monica, Siswa MTs Yapi Sleman
Monica, Siswa MTs Yapi Sleman Jadi Pembicara di Forum WHO

Monica, Siswa MTs Yapi Sleman Jadi Pembicara di Forum WHO

Edupost.id – Seorang bocah perempuan bernama Monica beberapa hari ini mendadak viral di dunia maya. Pasalnya, bocah berusia 15 tahun ini berkesempatan menjadi pembicara dalam The World Health Organization (WHO) 8th Millestone of Global Campaign for Violance Prevention di Ottawa, Kanada tanggal 19-20 Oktober 2017 mendatang.

Kisah keberhasilan Monica ini juga menjadi viral dalam beberapa waktu terakhir lantaran ia memiliki seorang ibu bernama Purwati yang kini hidup tanpa memiliki rumah di kawasan Kramat, Jakarta Pusat. Untuk menyambung hidup, Purwati harus menjadi penjual kopi keliling.

Ternyata, Monica merupakan salah satu siswi MTs Yayasan Pembangunan Islam (Yapi) Pakem Sleman. Hal itu ditegaskan oleh Kabid Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag DIY, H. Nadhif, S.Ag, M.SI. Bahkan Nadhif mengaku sudah mendatangi langsung Monica di madrasah yang terletak di dusun Labasan, Pakembinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta.

“Benar Monica adalah siswa MTs Yapi dan tinggal di sebuah asrama,” kata Nadhif.

Monica berhasil memperoleh kesempatan terbang ke Kanada usai memenangkan sebuah lomba penulisan esai yang diadakan Yayasan Sayangi Tunas Cilik yang merupakan bagian dari organisasi Save The Children di Indonesia. Monica rencananya berangkat bersama lembaga Save the Children ke Kanada 16 Oktober 2017.

Dalam forum WHO di Kanada tersebut Monica akan membacakan hasil tulisannya mengenai perilaku kekerasan yang diterima anak-anak baik selama berada di dalam maupun di luar asrama miliki yayasan sosial. Pertemuan itu akan dihadiri perwakilan dari negara-negara yang tergabung di PBB, NGO, serta perwakilan anak dari berbagai belahan negara.

“Ia akan ceritakan pengalamannya menghadapi kekerasan, lebih kepada perspektif anak tentang kekerasan, bagaimana ia menemukan itu di dalam dan di luar panti sebagai upaya penanganan kekerasan terhadap anak di dunia. Ia juga akan sampaikan kondisi keluarganya seperti yang ia tulis di dalam esai,” terang Nadhif. (Andi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *