Sabtu , 24 Juni 2017
Home / Kabar Sekolah / Siswa MAN Deteksi Zat Berbahaya dengan “Susah Bisu”
Siswa MAN Deteksi Zat Berbahaya dengan "Susah Bisu"
Siswa MAN Deteksi Zat Berbahaya dengan "Susah Bisu"

Siswa MAN Deteksi Zat Berbahaya dengan “Susah Bisu”

Edupost.id – Makanan berbahaya yang mengandung formalin maupun boraks marak beredar di masyarakat. Sayangnya tidak mudah untuk mendeteksi adanya zat berbahaya itu di dalam makanan. Untungnya, tim peneliti dari MAN Lab UIN Yogyakarta berhasil menemukan cara mudah untuk mendeteksi keberadaan zat berbahaya di dalam makanan dengan judul penelitiannya Susah Bisu (Tisu Basah Kubis Ungu).

Tim BRC (Briliant Research Club) MAN LAB UIN yang terdiri dari Ika Nur Azizah , Selvi Hidayah, serta Ayatul Marifah. Penemuan mereka berupa penggunaan tisu yang dikombinasikan dengan senyawa kubis ungu untuk mendeteksi paparan bahan berbahaya dalam makanan. Ada dua bahan berbahaya yang menjadi obyek penelitian yaitu formalin dan boraks.

Ketika ditemui di ruang perpustakaan madrasah setempat, Ketua tim peneliti, Ika Nur Azizah mengatakan, penelitian ini bermanfaat untuk mendeteksi keberadaan bahan berbahaya, seperti formalin dan boraks dalam makanan. “Perlu ditemukan cara praktis untuk mendeteksi adanya bahan berbahaya pada makanan,” ujar Ika kepada Edupost.id.

Sistem kerjanya, tisu basah yang telah dikombinasikan dengan ekstrak kubis ungu dicelupkan dalam larutan formalin maupun larutan boraks. Ketika dicelupkan dalam larutan formalin, tisuakan berubah warna menjadi pink atau merah. Dan ketika dicelupkan dalam larutan boraks, tisu akan berubah warna menjadi hijau.

Ika menerangkan, hal itu terjadi karena sifat asam basa dalam bahan. Ekstrak kubis ungu warnanya akan berubah menjadi pink atau merah kalau terkena zat asam, dan akan menjhadi hijau ketika terkerna zat basa. Ketika diukur dengan Ph meter, formalin termasuk zat asam, sedangkan borak termasuk basa.

“Kalau konsentrasi asamnya tinggi warnanya akan merah. Ayam yang mengandung formalin, kalau dites warna tisunya menjadi pink, karena formalin sudah tercampur dengan bahan lain sehingga konsentrasi formalinnya rendah,” terang siswa kelas XII IPA 2 ini.

Pembimbing penelitian mengatakan, penemuan ini telah berhasil meraih juara pertama dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Remaja (LKTIR) bidang kimia yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Indonesia (UII) baru-baru ini. Penemuan ini, menurut Arif semakin menegaskan MAN Lab UIN sebagai rintisan Madrasah Riset Nasional. Kedepan, pihaknya akan berusaha mempatenkan karya ini agar dapat dilindungi oleh hukum.

“Saya senang atas kegigihan mereka. Setelah berkali-kali penelitian mereka gagal akhirnya kesabaran mereka membuahkan hasil,” ujar Arief. (Andi)

Check Also

Atlet Muda Baseball Bandung Akan Berlaga Di Tiongkok

Lima Atlet Muda Baseball Bandung Tanding Di Tiongkok

Edupost.iD- Sebanyak 30 orang akan berangkat untuk mewakili Indonesia untuk pertandingan The 9 tahun UI2 …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *