Sabtu , 21 Januari 2017
Home / Kabar Sekolah / Siswa SMKN 1 Nglipar Buat Sleeping Bed dari Sampah Plastik
SMKN 1 Nglipar Buat Sleeping Bed dari Sampah Plastik
SMKN 1 Nglipar Buat Sleeping Bed dari Sampah Plastik

Siswa SMKN 1 Nglipar Buat Sleeping Bed dari Sampah Plastik

Edupost.id – Semakin banyaknya produk makanan berkemasan plastik ternyata mulai menjadi persoalan tersendiri, khususnya bagi lingkungan. Di kebanyakan sekolah misalnya, setelah isinya dinikmati, smpah plastik kemasan makanan akan semakin menggunung. Kondisi ini menjadi perhatian bagi beberapa siswa di SMKN 1 Nglipar Gunung Kidul. Mereka mengolah sampah plastik kemasan menjadi sleeping bed yang memiliki nilai manfaat.

“Awalnya banyak sekali sampah plastik bungkus makanan di sekolah. Kami berpikir untuk memanfaatkan sampah ini untuk membuat produk yang bermanfaat,” ujar Rafika Fitri Aryani, salah satu siswa yang pembuat sleeping bed dari sampah plastik ini.

Diakuinya, sebelum memutuskan membuat sleeping bad memang sempat terpikiran membuat tas. Namun, tas berbahan sampah plastik sudah sangat banyak ditemui. Akhirnya, bersama dengan Diana Mintaria dan Bayu Tri, Rafika memutuskan membuat sleeping bed.

Tidak sulit untuk membuat sleeping bed ini. Hanya saja, dalam prosesnya dibutuhkan ketekunan, kesabaran, dan kejelian yang besar untuk membuat produk yang baik.

Tahap awal, plastik yang terkumpul dicuci, kemudian dipotong kecil – kecil. Potongan ini lalu dimasukkan ke dalam selimut seperti sleeping bad pada umumnya. Selimut ini dibuat dari kain perca yang sudah dijahit sebagai bungkus. Satu sleeping bed, menurut Rafika membutuhkan sekitar 4 kg kain perca. Kain ini dibeli dari para penjahit.

“Sampah plastik kumpulin dari teman – teman. Sekarang sampah plastik di sekolah mulai berkurang karena selalu dikumpulin. Ini bisa mengurangi banyaknya sampah plastik di sekolah,” terang suswa kelas XII ini.

Dikatakan Rafika, dalam membuat produk ini, ia dan timnya masih menggunakan cara manual. Pemotongan plastik menggunakan gunting, sehingga membutuhkan waktu lama. Belum lagi untuk menjahit kain perca yang banyak menggunakan tangan.

Saat ini ia juga mengaku masih akan menyempurnakan produknya. Kelemahan utama poduk ini adalah saat digunakan di bawah guyuran hujan. Air pastinya akan mampu menembus selimut dan tersimpan di sela – sela potongan plastik. Ini tentunya sangat tidak baik. Untuik itu,  ke depan ia akan menggunakan bahan lain untuk bahan selimutnya agar produk ini bisa tahan air.

“Kalau sudah sempurna baru akan diperbanyak dan diperualbelikan. Nanti akan dihitung analisis ekonominya. Yang jelas, kami akan menggunakan barang bekas untuk mengurangi sampah,” katanya. (Andi)

Check Also

SMP Al Azhar Yogyakarta Ubah Ampas Tebu Jadi Papan

SMP Al Azhar Yogyakarta Ubah Ampas Tebu Jadi Papan

Edupost.Id – Di tangan dua siswa SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta, ampas tebu ternyata …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *