Selasa , 28 Maret 2017
Home / Kesehatan / Efek Hukuman Kebiri bagi Tubuh Manusia
kekerasan-seksual-anak
Ilustrasi. Korban kekerasan seksual

Efek Hukuman Kebiri bagi Tubuh Manusia

Edupost.id – Kasus kekerasan seksual anak dan perempuan ditanggapi pemerintah dengan pemberlakuan hukuman kebiri bagi pelaku. Belum lama ini, Presiden Joko Widodo telah menandatangani Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) yang menjadikan pelaku kekerasan seksual mendapat hukuman kebiri. Pro kontra terkait efek dari hukuman ini masih ramai datang dari berbagai kalangan. Berikut ini efek hukuman kebiri bagi tubuh manusia seperti dilansir Wikipedia.

Kebiri berdampak pada hilangnya nafsu secara seksual atau libido. Dampak juga dirasakan pada kesehatan fisik. Seperti otot berkurang dan lemak bertambah. Sehingga semangat hidup berkurang dan gairah hidup juga berkurang bagi pria.

Kebiri (emasculated) atau disebut juga pengebirian atau kastrasi diartikan sebagai tindakan bedah dan atau menggunakan bahan kimia yang bertujuan untuk menghilangkan fungsi testis pada jantan atau fungsi ovarium pada betina. Pengebirian dapat dilakukan baik pada hewan ataupun manusia. Praktiknya sudah dilakukan manusia bahkan jauh sebelum tercatat dalam sejarah. Kebiri kadang kala dilakukan atas dasar keagamaan atau sosial di budaya tertentu di Eropa, Timur Tengah, Asia Selatan, Afrika, dan Asia Timur.

Pengebirian juga muncul dalam dunia keagamaan. Sementara beberapa agama seperti agama Yahudi sangat melarang praktik ini. Kitab Imamat misalnya secara khusus melarang orang kasim menjadi biarawan Katolik, sebagaimana tradisi sebelumnya melarang hewan kebiri untuk dikorbankan.

Pada masa purba, pengebirian melibatkan pemotongan seluruh alat kelamin pria, baik testis sekaligus penis. Praktik ini sangat berbahaya dan kerap mengakibatkan kematian akibat pendarahan hebat atau infeksi, sehingga dalam beberapa kebudayaan seperti Kekaisaran Byzantium, pengebirian disamakan dengan hukuman mati. Pemotongan hanya testisnya saja mengurangi risiko kematian.

Pembedahan untuk mengangkat kedua testis atau pengebirian secara medis dilakukan sebagai prosedur pengobatan kanker prostat. Pengobatan dengan mengurangi atau menghilangkan asupan hormon testosteron baik secara kimia ataupun bedah dilakukan untuk memperlambat perkembangan kanker. Hilangnya testis yang berarti hilangnya pula hormon testosteron mengurangi hasrat seksual, obsesi, dan perilaku seksual.

Kaum transseksual laki-laki yang merasa dirinya perempuan ada yang menjalani prosedur orchiektomi atau penghilangan alat kelami pria. Hal etrsebut sebagai bagian dari operasi ganti kelamin dari pria menjadi wanita. (IK-SS)

 

 

Check Also

bem-si-gelar-konsolnas-bahas-kejahatan-anak-dan-perempuan

Forum Perempuan BEM SI Bahas Kekerasan Seksual

Edupost.id, Bandung – Forum perempuan BEM Seluruh Indonesia (SI) menggelar Konsolidasi Nasional (Konsolnas), (14-15/6) di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *