Rabu , 18 Oktober 2017
Home / Khazanah / Kisah Ibrahim, Keteladanan dalam Bangun Kepribadian Anak
Cara-Menghafal-Al-Quran-Semudah-Al-Fatihah
Ilustrasi: Ayah dan Anak sedang Membaca Al Quran. (Foto: alquranhometutor)

Kisah Ibrahim, Keteladanan dalam Bangun Kepribadian Anak

Edupost.id – Keikhlasan Ismail ketika Allah memerintahkan ayahnya, Ibrahim untuk menyembelih dirinya patut dijadikan pelajaran berharga. Ketika Ibrahim berkata kepada Ismail bahwa Allah ingin ia menyembelih Ismail atas perintah Allah, Ismail patuh tanpa keengganan sedikitpun. Hal yang paling luar biasa dari kisah ini adalah kepercayaan yang tinggi Ismail pada kebenaran ilham sang ayah.

Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. H. Muhammad, M.Ag., ketua Dewan Masjid Daerah Istimewa Yogyakarta ketika menjadi khotib salat Idul Adha 1438 H di lapangan Kentungan, Condongcatur, Sleman Jumat (1/9).

“Ada hal – hal besar yang dapat dipelajari oleh keluarga muslim saat ini berangkat dari peristiwa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS dengan putranya, Nabi Ismail AS, ” kata Prof. Muhammad, dalam khutbahnya.

Menurutnya, saat ini banyak keluarga muslim yang mengguyur anaknya dengan kruangan dan material. Banyak orang tua yang cenderung mengambil alih mimpi anak, mereka ingin melihat anaknya berhasil sekolah di tempat yang baik, mendapat jodoh yang baik. Tapi tentu saja itu bukan segalanya, dan belum tentu yang diinginkan orang tua juga diinginkan anak.

“Anak-anak saat ini dikorbankan untuk jadwal yang padat, bahkan saat mereka di usia kanak-kanak. Orang tua punmtak bisa melepaskan diri dari harapan tinggi pada anak-anak sekaligus melupakan bahwa anak-anak pun berhak menuntut dari orang tua, yakni waktu, kebersamaan, dan kasih sayang,” lanjut Prof. Muhammad.

Prof. Muhammad juga mengingatkan peran penting seorang ayah bagi anak-anaknya. Banyak ayah yang meninggalkan anak-anaknya ke luar rumah dengan alasan ibadah maupun alasan ekonomi. Banyak ayah yang kerap terlibat dalam pelayanan komunitas, berlama – lama di masjid, sementara di rumah hanya berbincang sekedarnya karena enegi terkuras di luar rumah.

Bila anak-anak sudah terbiasa hidup tanpa ayah, akan berdampak sangat buruk. Anak akan memiliki perasaan tak butuh ayah dan akhirnya hilang kedekatannya dengan sang ayah.
Anak laki-laki yang terabaikan oleh ayah secara psikologi cenderung berpertilaku kasar, melanggar norma, dan selip secara seksual saat remaja. Sementara anak perempuan yang tak mendapat cukup perhatian, dan cinta kasih ayah akan lebih rentan dari serangan predator seksual. Di bawah sadar, mereka mencari kaasih sayang atau peran pengganti ayah.

“Sementara anak-anak bahagia yang mendapat kesempatan bersama sang ayah untuk bersenang – senang, beraktivitas bersama cenderung sedikit memiliki masalah sosial. Mereka bahkan akan mengembangkan pribadi lebih sehat, stabil, dan memenuhi kewajibaikpernikahan dengan baik pada tahun – tahun kemudian,” kata Prof. Muhammad dalam penutup khutbahnya. (Andi)

Check Also

Baca Buku bersama Anak-anak Tingkatkan Perkembangan Otak

Baca Buku bersama Anak-anak Tingkatkan Perkembangan Otak

Edupost.id – Peneliti telah menemukan bahwa terlibat dengan anak-anak saat membaca buku dapat memberi dorongan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *