Minggu , 18 Februari 2018

Recent Posts

Recent Posts

Recent Posts

Inovasikan Minyak Jelantah, Mahasiswa UB Raih Emas di Thailand

Edupost.id – Tim Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (UB) berhasil meraih Gold Medal dalam kompetisi internasional Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation, and Technology Exposition (IPITEX) di Thailand. Prestasi ini mereka raih untuk bidang invention for industry, kategori food.

IPITEX diikuti 22 negara di dunia. Indonesia mengirim 37 tim dan 9 tim berasal dari UB. Dalam ajang tersebut,  Indonesia berhasil memperoleh 15 medali emas, 7 perak dan 15 perunggu sehingga berada di urutan ke-4. Delegasi UB sendiri berhasil membawa 2 emas, 3 perak dan 4 perunggu.

Salah satu tim FP-UB yang diketuai Muhammad Febriansyah (Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan 2014) dengan anggota Cindy Diah Ayu Fitriana (Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan 2015) dan Ratih Eka Santosa (Jurusan Budidaya Pertanian  2014) mempresentasikan alat yang diberi nama EF-DHUSENOL. Dibawah bimbingan Dr. Budi Waluyo SP, MP,  alat ini digunakan untuk meningkatkan kualitas minyak jelantah.   

Ef-dhusenol merupakan inovasi teknologi yang dirancang dengan 3 filter yang berfungsi untuk peningkatan kualitas minyak jelantah dengan bahan dasar limbah kulit durian sebagai adsorben. Sedangkan keunggulan dari teknologi ini adalah bersifat eco-friendlyportable dan tidak memerlukan energi listrik.

Selain itu, dengan keberhasilannya meraih medali emas ini, maka tim FPUB ini mendapat undangan khusus untuk mengikuti ajang Asia Innovation and Invention Conference (AIIC) 2018 pada bulan april di Gurney Paragon Penang, Malaysia. (UB/ IK-SS)

Dosen Unair Jadi Satu-satunya Board of Governors IALS Asal Indonesia

Edupost.id – Dosen Fakultas Hukum Universitas Airlangga (Unair), Nurul Barizah S.H., LLM., PhD terpilih menjadi satu diantara sebelas akademisi hukum yang tergabung dalam Board of Governors International Association of Law School (IALS). Nurul dikukuhkan namanya setelah dipilih 85 persen anggota IALS.

Dari Indonesia, Nurul tercatat sebagai satu-satunya akademisi yang terpilih. “Saya nggak tahu parameternya apa. Awalnya dikirim e-mail bahwa masuk nominasi. Nggakmenyangka juga karena saya pake jilbab. Dan, di luar, hal seperti itu sensitif,” terangnya.

Nurul mengakui, selama tiga tahun terakhir, dirinya sering turut serta dalam forum diskusi IALS. Baik menjadi pembicara, moderator, maupun peserta. Dari forum-forum itulah, dia melakukan banyak transfer knowledge, bertukar ide dan gagasan seputar mengelola sekolah hukum. 

Keanggotaan IALS berasal dari kampus-kampus besar di berbagai negara di dunia. Tampaknya ada nama dan kiprah salah seorang dosen dari UNAIR yang cukup diperhitungkan.

Nurul mengungkapkan, selama menjabat hingga tiga tahun ke depan, sudah ada tugas yang menantinya sesuai dengan charter yang dibuat. Salah satunya, mendiskusikan aktivitas yang dikerjakan asosiasi. Dalam satu tahun, ada setidaknya lima aktivitas. Yakni, forum asosiasi international para dekan, annual meetingleadership forumresearch forum, dan visiting lecture.

Aktivitas IALS terbagi mejadi empat region, yaitu American regionAfrican regionEurope region, dan Asia Pacific region. Setiap tahun ada diskusi masalah pendidikan hukum di region masing-masing. Forum itu lantas dibawa ke forum global, delegasi setiap region hadir di sana. (Unair/ IK-SS)

 

 

 

Kiprah Tim Aksantara ITB Harumkan Negeri

Edupost.id – Aksantara yang berarti “Penjaga Langit Nusantara” ini lahir di bawah Keluarga Mahasiswa Penerbangan (KMPN) ITB pada tahun 2013. Tim ini telah meraih berbagai penghargaan diantaranya sebagai desain terbaik pada ajang Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) tahun lalu.

Pada tahun 2014, Aksantara ITB kembali meraih juara di ajang prestigius tersebut, yakni penghargaan juara pertama, desain terbaik, dan presentasi terbaik, yang membawa mereka ke posisi juara umum KRTI 2014. Karena kebutuhan sumber daya yang semakin meningkat, Aksantara ITB memutuskan untuk memperluas cakupan kriteria anggota Aksantara, dari yang awalnya dibawahi KMPN ITB, hingga terbuka untuk seluruh mahasiswa ITB.

Tahun 2017, Aksantara ITB berhasil meluncurkan empat buah wahana baru yang berhasil membawa pulang beberapa piala pada KRTI 2017 yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di Pasuruan, Jawa Timur: di bidang Fixed Wing UAV dengan desain terbaiknya, di bidang Racing Plane dengan penerapan kompleksitas teknologinya, pesawat lipat di bidang Technology Development dengan desain terbaik dan juara kedua, dan di bidang Vertically Take Off and Landing dengan technical award-nya.

Putra Sugesti, selaku ketua tim, memilih desain yang gamblang untuk wahana ini, untuk meningkatkan kemulusan terbang dan mengurangi hambatan yang dapat mengurangi kecepatan pesawat. Salah satunya, dengan menempatkan antena pesawat di dalam ujung sayap.

Jenis wahana ini harus mampu menangkap gambar dari area konstruksi seluas 1,5 x 1,5 km2, yang nantinya akan dikolase dan diterjemahkan menjadi satu bacaan pemetaan yang rampung. Untuk memenuhi fungsi ini, fixed wing UAV harus mampu memiliki daya tahan yang tinggi sehingga memungkinkan wahana untuk terbang cukup lama, yakni 40-50 menit.

Gambar ditangkap oleh kamera pemetaan yang terletak di belly wahana selang beberapa waktu tergantung dari ketinggian terbang pesawat, kemudian hasil-hasil tangkapan tersebut akan disusun sedemikian rupa sehingga dapat menunjukkan hasil bacaan daerah tersebut. Pemrosesan gambar dilakukan melalui komputer setelah pesawat mendarat dengan metode rendering. (ITB/ IK-SS)

Aplikasi Gunung Meletus Inovasi Mahasiswa UNY Raih Emas di China

Edupost.id – Mahasiswa UNY berhasil menciptakan aplikasi yang bisa memberikan parameter untuk suhu udara terhadap bencana erupsi gunung berapi. Pengukuran suhu udara secara berkala melalui aplikasi ini dapat meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat untuk evakuasi cepat.

Tim mahasiswa tersebut terdiri dari Debby Agustin (Biologi), Roni Marudut Situmorang (Pendidikan Geografi), Singgih Bekti Worsito (Pendidikan Teknik Mekatronika), Rifaldy Fajar (Matematika), Riana Dwi Kurniawati (Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia), Prihantini (Matematika), Kristian Bayu Ardianto (Pendidikan Kepelatihan Olahraga) dan Lailatul Fitriyah (Pendidikan Biologi).

Inovasi tersebut mengantarkan tim ini meraih medali emas dan tiga penghargaan khusus dalam ajang The 2nd World Invention and Innovation Forum (WIIF) baru-baru ini di Foshan, China.

Adapun Penghargaan Khusus yang berhasil diraih diantaranya adalah Best Award yang diberikan oleh Women’s Inventors Association “NOVA”Bosnia dan Herzegovina, Gold Award yang diberikan oleh Manila Young Inventos Association, Philippines dan Appreciated Award yang diberikan oleh Indian Innovators Association, India

Tim UNY yang saat itu diwakili oleh Debby Agustin dan Roni Marudut Situmorang mempresentasikan karya yang berjudul “Volcansmart : Pre-Disaster Mitigation Volcano Eruption Android App”. Volcansmart merupakan teknologi untuk memprediksi erupsi merapi melalui suhu dan tekanan berbasis android.

Dalam kompetisi itu, tim UNY menjadi satu-satunya wakil dari Indonesia dan menjadi tim termuda (Mahasiswa Program Sarjana) sementara tim lain didominasi oleh peserta yang bergelar Master, Doktor dan Professor. (UNY/ IK-SS)

Pakar Unpad Gaungkan Produk Halal sebagai Gaya Hidup

Edupost.id – Indonesia berada di posisi sebelas, negara yang menjadi indikator perkembangan ekonomi Islam global. Padahal kita memiliki penduduk muslim terbesar di dunia. Halal industri kita belum kondusif. Hal ini yang mendasari pakar Universitas Padjajaran (Unpad) menggaungkan produk halal sebagai gaya hidup.

“Kita merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, tetapi kita nomor sebelas. Mengapa? Salah satu ukurannya adalah ekosistem. Di halal industri kita belum kondusif,” kata Dr. H. Sapta Nirwandar, S.E., DESS., dalam Bedah Buku Halal LifestyleTren Global, & Peluang Bisnis di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jalan Dipati Ukur No. 35 Bandung, Kamis (15/02).

Ketua Ikatan Alumni Unpad 2012-2016 ini mengungkapkan, berkembangnya industri halal bukan hanya terjadi di negara mayoritas Muslim. Sejumlah negara dengan jumlah penduduk Muslim relatif sedikit juga sudah mulai melihat potensi besar pasar halal.

Bisnis halal pun bukan hanya di sektor pangan, tetapi sudah mencakup produk kosmetik, farmasi, fashion, dan finansial. Bahkan kini telah merambah hingga ke bisnis travel, pendidikan, media, rekreasi, dan seni. “Halal adalah lifestyle,” kata Dr. Sapta yang merupakan alumni Fakultas Ekonomi Unpad ini.

Buku Halal Lifestyle, Tren Global, & Peluang Bisnis ditulis Dr. Sapta dengan harapan dapat membuka cakrawala bisnis di sektor halal lifestyle yang saat ini memiliki potensi sangat besar. Halal yang kental dengan filosofi religi ternyata memiliki makna yang sangat luas dan bisa diaplikasikan dalam berbagai sisi kehidupan, termasuk ekonomi. (Unpad/ IK-SS)

 

Recent Posts

Recent Posts