Selasa , 24 Oktober 2017
Home / Opini Akademia / Kurikulum dan Darurat Kepahlawanan Guru

Kurikulum dan Darurat Kepahlawanan Guru

Masih segar diingatan kita sosok bijak kaisar Jepang, ia adalah Kaisar Hirohito. Tahun 1945 Kaisar Hirohito kalah dalam perang melawan sekutu. Ketika negerinya hancur, ia hanya menanyakan satu pahlawan sebenarnya, yakni guru. “Berapa banyak guru masih kita punya?”

Cuplikan kejadian diatas, Kaisar Hirohito memberikan penjelasan bukan berarti ia menganggap murah nyawa prajurit. Namun, jalan satu-satunya bangkit dari keterpurukan hanya dengan jalan pendidikan.

Pendidikan merupakan kunci pembangunan sekaligus kunci majunya peradaban bangsa. Sejarah membuktikan, kebangkitan ekonomi Jepang lebih cepat dari perkiraan, bahkan Jepang mampu menjadi negara yang berani bersaing di bidang teknologi dengan Barat.

Bangsa Indonesia pun terus berusaha memperbaiki kurikulum pendidikan. Dari tahun ke tahun, tercatat sejak tahun 1945 Indonesia sudah mengalami 9 perubahan kurikulum nasional, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, KTSP 2006 dan terakhir kurikulum baru 2013. Setiap perubahan kurikulum tujuannya baik, karena kurikulum bersifat dinamis. Kurikulum harus mengadopsi sesuai kebutuhan zaman yang berlaku.

Menurut penjelasan Mendikbud, Kurikulum yang akan diberlakukan tahun 2013/2014 ini menekankan aspek kognitif, afektif, psikomotorik melalui penilaian berbasis test dan portofolio saling melengkapi. Kurikulum  tersebut juga diharapkan dapat mengobati keprihatinan atas hilangnya akhlak mulia seperti menguatnya radikalisme. (Kompas, 26/11/12).

Kurikulum baru ini mengurangi mata pelajaran yang semula 12 menjadi 6 mata pelajaran. Untuk jenjang SD meliputi mata pelajaran agama, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, Seni Budaya, dan Jasmani/Kesehatan.  Hal ini dimaksudkan agar siswa fokus terhadap kemampuan dasar dan tidak terbebani mata pelajaran yang banyak.

Hal ini harus kita sambut dengan baik, agar perubahan kurikulum benar-benar mampu menelurkan generasi-generasi bermutu. Namun perlu dicatat, sesempurna kurikulum apapun, kalau negeri ini mengalami darurat kepahlawanan guru, di lapangan hasilnya akan nihil.

Kurikulum yang rencananya di terapkan Maret 2013 tersebut harus mengikutsertakan tokoh dan pakar pendidikan. Pembekalan, diklat dan training guru sangat penting guna memperkenalkan tujuan dan metode pengajaran kurikulum.

Pemerintah bersama jajaran terkait seharusnya memberikan penghargaan lebih terhadap guru. Mengingat realitas guru tanpa masa depan membuat banyak pemuda tak berminat menjadi guru. Di dalam lagu wajib nasional 1980 “Hymne Guru”, guru adalah pahlawan bangsa tanpa tanda jasa. Meskipun dipuja sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, bukan berarti pemerintah lantas menelantarkan nasib guru. Kita sangat prihatin atas kerja birokrasi yang terkesan lamban, sehingga menyebabkan gaji guru terlambat. Belum lagi, pungutan liar oknum birokrasi mengatasnamakan sertifikasi polio, pelatihan profesi guru, penelitian tindakan kelas.

Hari pahlawan hendaknya tak hanya berorientasi menghargai pahlawan yang telah gugur dalam perjuangan mencapai kemerdekaan. Namun, lebih penting lagi membahagiakan guru adalah prasyarat bangsa yang bahagia. Dengan bahagia, guru akan lebih bersemangat dan berusaha sekuat tenaga menjadi guru berkualitas. Sehingga cita-cita yang tersurat dalam Pembukaan UUD 1945 bukan hal mustahil bagi negeri yang diwarisi berjuta sejarah kejayaan para leluhur, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Amin.

Zamhari
Alumnus Divisi Syiar
Komunitas Rohis SMK se-Jogja (Karoma Jogja)

Check Also

UPN Veteran Yogyakarta

129 Dosen UPN Veteran” Yogyakarta Terindex SINTA

Edupost.id – Rektor UPN “Veteran” Yogyakarta (UPNVY), Prof.Dr.Ir. Sari Bahagiarti K.M.Sc mengatakan, 129 dosen UPNVY …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *