Kamis , 25 Mei 2017
Home / Opini Akademia / Menumbuhkan Cinta Tanah Air dengan Merefleksi Sejarah Bangsa
Peringatan Hari Sumpah Pemuda. dok. anonim

Menumbuhkan Cinta Tanah Air dengan Merefleksi Sejarah Bangsa

Pemuda merupakan pilar utama suatu negara. Tanpa pemuda, sebuah bangsa tidak akan memiliki generasi penerus yang melanjutkan eksistensi suatu negara. Mereka memiliki peranan penting dalam melanjutkan perjuangan serta cita-cita besar bangsa Indonesia. Pemuda merupakan penggerak, dalam setiap kebangkitan maka pemuda adalah garda terdepan.

Kita bisa bercermin dari sejarah negara kita, bahwa kemerdekaan kita peroleh melalui proses yang panjang. Dimulai dari perkumpulan-perkumpulan pemuda, mulai dari Serikat Islam (SI), Budi Utomo, Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, serta perkumpulan pemuda yang tersebar di berbagai daerah, hingga pada akhirnya bermuara pada lahirnya sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Perkumpulan-perkumpulan pemuda inilah yang menjadi cikal bakal perjuangan untuk meraih kemerdekaan Indonesia.

Cinta tanah air adalah suatu kasih sayang dan suatu rasa cinta terhadap tempat kelahiran atau tanah airnya. Dengan semangat dan rasa cinta kepada tanah air dan tentu atas izin Allah SWT negara Indonesia bisa memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Salah satu usaha yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan rasa cinta kepada tanah air adalah dengan merefleksi kembali sejarah kebangkitan bangsa Indonesia yang di gagas oleh pemuda-pemuda yang berjiwa patriot. Mengapa sejarah?  Karena salah satu fungsi sejarah adalah sebagai ilmu yang mempunyai peranan dalam perkembangan suatu negara atau daerah.

Dengan mengetahui sejarah maka akan berdampak terbentuknya citra dan opini pemuda tentang kisah masa lalu yang dibacanya. Selain itu melalui pendekatan sejarah, nilai-nilai moral dan keteladanan dapat kita petik dari sosok luar biasa dari seorang pahlawan.

Bangsa Indonesia tentu rindu dengan sosok seperti HOS Cokroaminoto, sang guru bangsa yang pertama kali berjuang melawan penjajah melalui jalur politik. Bersama dengan organisasi pimpinannya yaitu Sarikat Islam, beliau memperjuangkan hak-hak kaum pribumi. Saat memimpin SI, usia beliau masih tergolong muda yaitu 30 tahun.

Begitu juga dengan Ir. Soekarno yang merupakan murid HOS Cokroaminoto, dalam usia muda ia telah mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia. Masih banyak lagi para pahlawan yang membuktikan rasa cintanya dengan aksi nyata, diantaranya H. Agus Salim(28 Tahun), Mohammad Hatta (25 Tahun), S.M. Kartosuwirjo (23 Tahun), R.A. Kartini (20 Tahun), Raden Dewi Sartika (20 Tahun) dan masih banyak lagi.

Dari sosok-sosok mereka inilah kita mengambil pelajaran bahwa rasa cinta kepada tanah air harus dibuktikan dengan pengorbanan nyata. Artinya sebagai seorang pemuda yang peduli dengan Indonesia harus terus bekerja, dan berjuang untuk memajukan bangsa diberbagai bidang. Karena dengan hal itu, maka bangsa Indonesia bisa mewujudkan cita-cita perjuangannya yaitu Indonesia Raya.

Penulis  : Siti Sulbiyah Kurniasih
Aktifitas : Mahasiswa

Check Also

UGM Buka Ajang Bisnis Pemuda ASEAN, AYSPP 2017

UGM Buka AYSPP, Ajang Bisnis Pemuda ASEAN

Edupost.id – Kompetisi bertaraf internasional, ASEAN Youth Socialprenuership Program (AYSPP) yang digelar Universitas Gadjah Mada (UGM) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *