Selasa , 24 Januari 2017
Home / Opini Akademia / Rasa Cinta Tanah Air yang telah Pudar
Seribu benderad di lereng G. Merapi. ilustrasi : nationalgeographic

Rasa Cinta Tanah Air yang telah Pudar

Memang itu terdengar simbolis saja, hanya berupa ucapan semata yang terlontar dari rakyat Indonesia. Namun, itu bukanlah berupa ungkapan perasaan saja, tetapi, sebuah ekspresi dan aksi sebagai wujud rasa kebangsaan. Sekarang kita kembalikan kepada diri pribadi masing-masing, apakah kita cinta kepada tanah air Indonesia? Bagaimana cara kita membuktikannya?

Kita bisa melakukannya, mulailah dari hal kecil, seperti melaksanakan upacara bendera dengan khidmat saja, kita berarti telah menanamkan rasa kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari, apalagi ketika kita lebih memilih menggunakan produk asli Indonesia. Seperti pakaian yang kita pakai sehari-hari. Mungkin bagi segelintir orang mereka terkadang gengsi unruk menggunakan barang yang dibuat di Indonesia. Ada rasa kepuasan tersendiri, ketika memakai produk luar negeri. Istilah seperti Made in America atau Made in China bukan menjadi hal tabu lagi di tengah-tengah masyarakat. Mulai dari kawula muda hingga dewasa, di zaman modern ini, mereka lebih suka memakai produk luar. Merk terkenal yang mendunia seperti Nike, adidas, atau merk surfing seperti Bilabong, Rusty, atau Rip Curl dan masih banyak lagi. Mereka rela mengeluarkan kocek dalam-dalam, supaya bisa mendapatkan produk yang mereka impikan selama ini. Bahkan, mereka rela menyampingkan kebutuhan pokok, seperti seragam sekolah, atau buku sekolah, dan lebih mengutamakan untuk membeli produk-produk tersebut.

Bagaimana kita menyikapi permasalahan ini ? Kembali kepada individu masing-masing. Sebenarnya, produk dalam negeri tidak kalah kualitasnya dibandingkan dengan produk luar, hanya saja mungkin merknya belum setenar produk luar yang telah sampai ke seluruh dunia. Sebut saja hasil kerajinan tangan khas Indonesia, yang kualitasnya tak perlu diragukan lagi. Sudah dibuktikan juga saat turis mancanegara saat mengunjungi Indonesia. Mereka bahkan mengagumi hasil karya Indonesia, dan sengaja datang ke Indonesia selain untuk melancong dengan menikmati keindahan alam bumi pertiwi juga membeli hasil kerajinan tangan asli buatan putra-putri Indonesia. Hal ini merupakan salah satu bukti positif hasil produk Indonesia bisa bersaing dengan produk asing.

Suatu gerakan positif telah digerakkan oleh pemerintah dan juga pemuda Indonesia. Mematenkan batik sebagai hasil karya bangsa Indonesia yang hampir saja dicaplok negeri tetangga. Jika kita tidak bertindak cepat, bukan tak mungkin, batik telah jatuh ke tangan bangsa asing. Batik, hasil kerajinan tangan yang membutuhkan keuletan dan ketelitian dalam membuatnya, kini tak lagi dipakai saat acara kondangan atau pertemuan penting. Anak muda bisa memvariasikannya dan menggunakannya saat pergi jalan-jalan, atau ke mall. Bukan merupakan sebuah gengsi lagi memakai batik ke mall, salah satu wujud rasa cinta tanah air.

Bayangkan jika semua barang adalah barang impor, buat apa Indonesia masih berdiri? Bukankah hal itu sama saja menjual kewarganegaraan? Tak dipungkiri hubungan dengan negara lain memang diperlukan. Tapi apakah perlu hubungan itu mematikan rakyat negara kita? Saya pribadi cukup miris melihat banyaknya hasil impor yang sebenarnya negara kita sendiri bisa memproduksinya.

Jika kita masih cinta tanah air kita, marilah bersama-sama dimulai dari diri kita sendiri, gunakan produk asli Indonesia. Banggalah saat menggunakannya. Wujudkan rasa nasionalisme kapanpun, dimanapun kita berada. Jangan sampai budaya kita sendiri diplagiat oleh bangsa luar. Ini tanah kita, tanah Indonesia. Perusahaan asing yang menguasai negara kita perlu diwaspadai. Jangan sampai suatu saat nanti kita menjadi pembantu di rumah sendiri. Kita yang punya rumah, kitalah yang harus menguasainya. Kita harus bisa membuktikan bahwa negara Indonesia sebagai negara maju bukanlah impian kosong saja. Ini merupakan suatu cambuk bagi kita untuk tetap bekerja keras, berkreasi dan loyalitas tinggi kepada bangsa.

Muhammad Rizki
Faculty of Law 2012
Universitas Gadjah Mada

Check Also

Indonesia Bergejolak, BEM SI Gelar Musyawarah Nasional

Indonesia Bergejolak, BEM SI Gelar Musyawarah Nasional

Edupost.ID – Pasca kisruh dan mandeknya tuntutan aksi bela rakyat 121 yang diselenggarakan di 19 …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *