Sabtu , 16 Desember 2017
Home / Opini Akademia / Re-vitalisasi Anggaran Pendidikan
Anggaran Belanja. foto: corbes

Re-vitalisasi Anggaran Pendidikan

Kabar gembira datang dari Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Dasar-Menengah, mulai tahun 2015 ini alokasi anggaran pendidikan diperkirakan mencapai 572 triliun dan kurang lebih enampuluh dua persen nya diperuntukkan bagi institusi pendidikan di daerah-daerah. Adanya komitmen pemerintah untuk terus meningkatkan alokasi anggaran pendidikan dari tahun ke tahun sudah sepatutnya diapresiasi dan terus dikawal. Dan menjadi tugas dari Pemerintah Daerah setempat untuk benar-benar mengoptimalkan serapan anggaran pendidikan tersebut guna menunjang perbaikan infrastruktur maupun peningkatan kualitas sumber daya manusia (tenaga pendidik).

Adanya upaya untuk terus meningkatan alokasi anggaran pendidikan nasional merupakan langkah penting yang harus dilakukan oleh pemerintah agar kualitas pendidikan kita tidak tertinggal dari negara lain.

Berdasarkan laporan tahunan UNESCO Education For All Global Monitoring Report pada tahun 2012 kualitas pendidikan Indonesia berada di peringkat 64 dari 120 negara di dunia. Sedangkan menurut Indeks Perkembangan Pendidikan (Education Development Indeks, EDI), Indonesia berada di urutan 69 dari 127 negara.

Data tersebut setidaknya memberikan gambaran bahwa kualitas pendidikan kita masih harus ditingkatkan, terutama pada lini peningkatan kualitas SDM tenaga pendidik maupun aksesibilitas (keterjangkauan) publik atas pendidikan itu sendiri.

Berdasarkan temuan data di lapangan, selama ini anggaran pendidikan secara dominan kurang lebih tujuh puluh persen terserap untuk alokasi gaji tenaga pendidik, pun situasi ini dibarengi dengan masih belum meratanya tenaga pendidik di setiap daerah. Ini artinya, besarnya alokasi anggaran belum dibarengi dengan adanya pemerataan tenaga pendidik bagi daerah-daerah terpencil yang masih sangat membutuhkan tenaga pengajar.

Senada dengan hal tersebut, masih kurangnya peningkatan kompetensi tenaga pendidik juga masih kerap sekali ditemui. Normalnya situasi ini tidak semestinya terjadi, oleh karena itulah pemerintah harus serius dalam mengelola anggaran ini agar tidak hanya tepat sasaran akan tetapi juga mampu mendorong terwujudnya tujuan (goal setting) pendidikan, sehingga kualitas pendidikan kita mampu bersaing di kancah internasional (global).

Di lain pihak, seiring dengan kebijakan pemerintah untuk terus menaikkan alokasi anggaran pendidikan, masih saja kita temui ratusan bahkan ribuan sekolah yang secara infrastruktur sangat tidak layak untuk dijadikan sebagai sarana belajar.

Realitas empirik membuktikan, daerah-daerah yang jauh dari pusat pemerintahan akan sangat mudah kita dapati gedung sekolah yang sangat memprihatinkan, pun fasilitas-fasilitas penunjang pendidikan juga masih jauh dari kata layak. Point persoalan inilah yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah, ketimpangan dalam aksesibilitas pendidikan pada kenyataannya belum juga terselesaikan dengan baik, bahkan tidak menutup kemungkinan semakin parah.

Mengacu para permasalahan tersebut, agar alokasi anggaran pendidikan terserap secara baik dan optimal, sekiranya pemerintah perlu menegaskan kembali beberapa hal. Pertama, perlunya pendataan kembali atas sekolah-sekolah yang ada. Hal ini guna mengidentifikasi kondisi dan perkembangan dari masing-masing sekolah yang nantinya akan sangat berkorelasi dengan tingkat kebutuhan atas anggaran pendidikan.

Kedua, mendorong setiap sekolah untuk berinovasi dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Selama ini tidak bisa dipungkiri salah satu kendala kita dalam meningkatkan mutu pendidikan yakni ketiadaannya sekolah atas inovasi, karena disadari atau tidak, hampir sebagian besar keberhasilan mutu pendidikan di negara-negara maju dilatarbelakangi oleh terus berkembangnya inovasi pendidikan, dan alokasi anggaran kita sudah patutnya diprioritaskan kearah tersebut.

Ketiga, serapan anggaran pendidikan harus ditargetkan untuk melahirkan tenaga-tenaga pendidik yang memiliki multi tasking baik pada sektor kompetensi maupun keterampilan sehingga menjadi penunjang bagi peningkatan mutu pendidikan. Tenaga pendidik adalah Subjek sentral dalam proses belajar mengajar, pun yang harus diingat tenaga pendidik bertugas untuk mendidik dan bukan mengajar.

Mendidik berarti memberikan pemahaman atas keilmuan berikut dengan etika serta norma keilmuan, sehingga peserta didik memahami bahwa hakekat dari pendidikan bukan pada aspek kecerdasan otaknya akan tetapi lebih pada kecerdasan emosional serta spiritual, sebagaimana wejangan Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan itu, Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani.

Agung SS Widodo, M.A
Staf Pengajar STPP Kementerian Pertanian dan Peneliti Pusat Studi Pancasila UGM

Check Also

KPAI Temukan Buku IPS Soal Yerussalem selain Penerbit Yudistira

Edupost.id – Buku IPS yang memuat konten bertuliskan “Ibukota Israel adalah Yerussalem” ternyata tidak hanya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *