Kamis , 21 September 2017
Home / Opini Akademia / Remaja dan Eksistensinya

Remaja dan Eksistensinya

Membicarakan masalah remaja rasanya tak akan lepas dari beberapa aspek yang melekat pada mereka yang rata-rata masih berusia belasan tahun itu. Mulai dari kondisi emosi yang masih labil, semangat berkarya yang sangat tinggi dan kadang meletup-letup serta keinginan untuk bisa tampil eksis di lingkungannya. Kesalahan perlakuan atau pemenuhan pada beberapa aspek tersebut seringkali menimbulkan masalah tersendiri. Sebut saja sebuah tawuran yang seringkali terjadi di sekitar kita. Sebenarnya apa aja sih yang mendasari terjadinya aktivitas tawuran yang merugikan itu?

Kalau dilihat dari beberapa berita yang sudah sering diulas beberapa hal yang biasanya memicu terjadinya tawuran sebenarnya bukan masalah yang begitu besar. Sebut saja masalah hanya berasal dari sebuah ejekan atau senggolan antara siswa yang berbeda sekolah, bisa jadi hal itu akan belanjut pada aksi tawuran. Itulah salah satu contoh dari kondisi emosional remaja yang masih labil, karena terkadang mereka enggan atau kesulitan untuk merasionalkan kondisi hati yang sudah terlanjur merasakan marah atau tersinggung hingga akhirnya justru menimbulkan sebuah aksi kekerasan. Sederhana memang permasalahannya tapi ketika tak pandai mengatur emosi bisa jadi hal ini memicu terjadinya hal yang lebih besar.

Contoh lain adalah keinginan remaja untuk merasa diakui oleh lingkungannya. Siapa sih yang tak ingin eksistensinya diakui oleh orang lain? Semua orang pasti mau dan bahkan berusaha untuk mewujudkannya. Begitu pula dengan remaja, mereka yang dalam usia masih belia itu lebih suka ketika memiliki sebuah komunitas yang bisa dibanggakan. Nah ketika komunitas yang mereka bangun ini adalah komunitas baik dan bisa menghasilkan banyak karya tentu para remaja di dalamnya akan sangat terbantu menyalurkan semangat dan ide kreatif mereka.

Beda cerita kalau para remaja ini justru bergabung dengan komunitas yang salah. Apa itu komunitas yang salah? Komunitas yang salah adalah komunitas yang terbangun bukan untuk menghasilkan karya tapi hanya untuk sekedar menghabiskan waktu luang, dan seringkali aktivitasnya merugikan diri mereka sendiri bahkan orang lain. Semisal mereka yang menyebut komunitasnya dengan sebutan “geng”. Sudah menjadi sebuah hal wajar ketika menyebut kata “geng” maka yang terbayang di benak kita adalah para remaja yang urakan, mereka yang lebih suka nongkrong di jalan ketika jam sekolah, mereka yang dari segi penampilan tak seperti pelajar pada umumnya atau bahkan seringkali melakukan tindak kekerasan seperti tawuran dll. Nah fenomena yang demikian itu bisa jadi bermula dari keinginan para remaja untuk bisa eksis dan merasa dihargai keberadaannya.

Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan untuk membantu mereka meraih eksistensi mereka dengan jalan yang baik? Tentu ada banyak sekali hal yang bisa dilakukan untuk mengarahkan para remaja kita ini. Pihak sekolah sebagai pihak yang bertanggungjawab pada pendidikan para siswa didiknya yang berusia remaja ini juga berkewajiban untuk menyediakan sebuah wadah untuk siswanya agar bisa menampung ide kreatif dan mengembangkan bakat mereka dengan cara yang positif. Misalnya dengan mengadakan kegiatan ekstrakurikuler seperti science club,  sport club, art club , hingga bela diri dan hiking. Beberapa kegiatan tersebut selain membantu siswanya menyalurkan bakat dan kreativitas, juga bisa membuat siswa memiliki eksistensi apalagi ketika mereka mampu berkarya atau bisa memenangkan kompetisi.

Nah selain itu tentu ada hal yang tak kalah penting, ini tentang pendidikan akhlak untuk siswa. Banyak sekali sekolah yang hanya fokus pada pendidikan berdasarkan kurikulum sekolah sehingga hal-hal terkait pembentukan akhlak dan karakter siswa seringkali terlewatkan. Padahal sebagai siswa, remaja menghabiskan hampir 50% waktunya di sekolah. Sudah jadi kewajiban sekolah untuk melakukan monitoring dan memberikan pengarahan pada siswa. Pendidikan akhlak yang diajarkan melalui pendidikan agama tentu saja tak cukup memadai, apalagi pelajaran agama bisa jadi hanya beberapa jam per minggunya.

Pendidikan akhlak bisa dilakukan dengan diadakannya bimbingan intensif pada siswa, misal diadakan kajian keagamaan, atau kajian keputrian untuk para siswi, atau lebih terfokus lagi bila dibuat dalam kelompok-kelompok kecil hingga monitoring bisa lebih dekat. Pembimbing atau pendamping kelompok pun bisa dilakukan oleh guru-guru atau kakak-kakak kelas yang mampu bertindak sebagai pengarah sekaligus teman cerita para adik kelas. Dengan hal seperti inilah guru bisa lebih mudah memonitor tiap kegiatan dan aktivitas para siswanya. Tentu hal ini membutuhkan komitmen yang tinggi dari pihak sekolah dan guru yang berperan, karena di sini mereka dituntut untuk menjadi orangtua para siswa ketika berada di sekolah.

Satu hal lagi yang sangat penting, keluarga juga sangat berpengaruh pada tiap perilaku remaja. Oleh karena itu orangtua murid pun tak boleh melimpahkan amanah untuk mendidik anak-anak mereka kepada guru di sekolah. Karena guru pertama dan utama yang mereka contoh setiap hari adalah berasal dari orangtua mereka sendiri. Ketika orangtua mampu memberikan contoh yang baik dan bisa menciptakan lingkungan keluarga yang kondusif pasti akan membuat remaja tumbuh dengan baik dan mampu meraih eksistensinya dangan cara yang baik dan bermanfaat.

Rahayu Sulistio Rini S.Gz
Penulis Buku
ukhti-shalihah.com

Check Also

siswa sd ikuti pesantren kilat ramadhan

Pendidikan Bukan Hanya untuk Cetak Anak Pandai

Edupost.id – Pendidikan seharusnya bukan hanya mencetak anak pandai secara akademis. Pendidikan justru diharapkan dapat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *