Senin , 29 Mei 2017
Home / Parenting / Disiplin Tidak Berarti Melakukan Kekerasan terhadap Anak

Disiplin Tidak Berarti Melakukan Kekerasan terhadap Anak

JAKARTA – Menerapkan disiplin terhadap anak tidak berarti orang tua harus melakukan kekerasan secara fisik maupun psikis. Orang tua memiliki niat untuk mendidik anak menjadi lebih disiplin namun yang terjadi justru perilaku kekerasan yang berujung pada trauma yang dirasakan anak.

“Kalau disiplin, ada yang namanya perjanjian, ada saling persetujuan bersama antara orang tua dan anak,” ujar Deputi IV Perlidungan Anak, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pribudiarta Nur Sitepu seperti dilansir antara.

Ia menjelaskan dengan contoh, saat orang tua membuat perjanjian bahwa anak tidak boleh menonton televisi lebih dari jam 10 malam. Kemudian, bila hal ini dilanggar, anak dihukum dengan melipatgandakan mengerjakan tugas dari sekolahnya.

Jika anak melanggar perjanjian, lanjutnya, maka orang tua baru boleh memberikan hukuman. Namun, hukuman ini tetap harus berdasar kesepakatan yang telah dibahas sebelumnya bersama anak. Kemudian, hukuman itu juga harus mendidik.

“Hukuman itu membawa edukasi di dalamnya. Hukuman itu adalah kesepakatan bersama antara orang tua dan anak. Bukan semata-mata kekerasan fisik dan psikis. Itulah garis tegas antara kekerasan dan pendisiplinan,” papar Pri.

Perihal angka kekerasan pada anak, Pri menyebutkan hasil survei Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP-PA) bersama Kementerian Sosial dan BPS pada 2013. Data menunjukkan sekitar 30 persen anak berusia 13-17 tahun telah mengalami satu jenis kekerasan baik itu fisik, seksual, maupun psikis.

Kemudian, pada kelompok usia 18-24 tahun, sebanyak 50 persen atau satu dari dua laki-laki telah mengalami salah satu kekerasan. Sementara pada perempuan, angka menunjukkan 16,40 persen atau satu dari enam orang juga mengalami kekerasan.

“Dari data ini munculah pernyataan bahwa ternyata keluarga di kita (Indonesia) tidak mampu membedakan pendisiplinan dengan melakukan kekerasan,” ujar Pribudiarta.

Padahal, lanjutnya, kekerasan justru menurunkan IQ-nya anak dan membekas dalam pola pikir anak. “Saat dia besar, dia akan merasa, kekerasan merupakan solusi untuk menyelesaikan masalah. Oleh karena itu, banyak kekerasan yang terjadi di masyarakat saat ini karena menganggap kekerasan sebagai jalan keluar,” terangnya. (IK-SS)

Check Also

UGM Buka Ajang Bisnis Pemuda ASEAN, AYSPP 2017

UGM Buka AYSPP, Ajang Bisnis Pemuda ASEAN

Edupost.id – Kompetisi bertaraf internasional, ASEAN Youth Socialprenuership Program (AYSPP) yang digelar Universitas Gadjah Mada (UGM) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *