Sabtu , 24 Juni 2017
Home / Parenting / Lima Cara Memotivasi Anak agar Berprestasi
Cara Memotivasi Anak agar Berprestasi
Cara Memotivasi Anak agar Berprestasi

Lima Cara Memotivasi Anak agar Berprestasi

Edupost.id – Motivasi belajar sangat berpengaruh terhadap pencapaian prestasi seorang anak. Menurut Ayah Edy, pakar parenting, untuk memotivasi agar anak berprestasi, tentu perlu mengenali karakter anak, apakah ia tipe yang senang berkompetensi atau tidak. Berikut ini lima cara memotivasi anak agar berprestasi:

1.Dimulai dari mengakui prestasi-prestasi kecil yang di lakukan anak. Hindari memotivasi dengan cara membandingkan prestasi anak dengan prestasi temannya, karena itu dapat langsung menjatuhkan mental anak.

2. Pada saat anak tidak mengerjakan prestasi, misalnya, kemarin meletakkan baju kotor di tempatnya, lalu hari ini tidak, maka bandingkanlah ia dengan dirinya pada saat berprestasi, bukan dengan kakak atau oranglain sehingga tidak akan membuatnya tersinggung.

3. Jangan menganggap prestasi anak sebagai hasil kerja kita, orangtuanya. Misalnya saat anak mendapatkan nilai bagus di sekolah, sering kali orangtua mengatakan, “Anak siapa dulu dong… anak mama.” Seolah prestasi itu bukan buah karya dan kerja kerasnya, tetapi karena “anak mama.”

4. Kalau anak sedang tidak berprestasi, orangtua sebaiknya tidak memberikan nasihat, tetapi bertanya dan mendengarkan jawabannya. Ketika nilai anak sedang menurun, misalnya “kenapa ya anak mama nilainya turun?” jika anak tidak mau menjawab, orangtua tidak perlu memaksa. Di lain waktu, jika naka sedang santai, orangtua bisa mengajaknya bicara lagi. Perlahan-lahan saja sampai anak mau membuka sehingga orangtua dapat mengetahui permasalahannya.

5. Kalau anak sudah termotivasi, orangtua sebaiknya tidak perlu lagi memotivasi supaya anak tidak merasa terbebani. Anak yang sudah termotivasi, memiliki efek tekanan yang tinggi. Semakin dimotivasi, semakin tinggi beban yang ia tanggung. Hal ini justru akan mengganggu prestasinya.

Jika orangtua terlalu memotivasi anak yang kurang suka berkompetensi, mereka justru akan merasa takut. Sebaliknya untuk anak yang suka berkompetensi, motivasi dapat membangkitkan semangatnya. Lalu bagaimana membedakan antara anak yang suka berkompetensi dan tidak? Menurut Ayah Edy, pada dasarnya orang suka berkopetensi. Hanya saja, ada anak yang menunjukkannya secara verbal dan ada juga yang tidak mengungkapkan dengan kata-kata. (IK-SS)

Check Also

balita menggunakan smartphone

Lima Cara Ampuh Hindari Anak dari Sifat Kecanduan

Edupost.id- Sifat anak yang implusif dan mudah dipengaruhi bahkan rawan perilaku adiktif atau kecanduan, dapat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *