Sabtu , 21 Oktober 2017
Home / Poleksosbud / 53 Pengajar Bahasa Indonesia Ikuti Pembekalan Bahasa

53 Pengajar Bahasa Indonesia Ikuti Pembekalan Bahasa

Edupost.id- Sebanyak 53 pengajar mengikuti pembekalan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) yang diselenggarakan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud. Para calon pengajar tersebut akan dikirim ke negara-negara di wilayah ASEAN, Amerika-Eropa, dan Aspasaf (Asia, Pasifik, dan Afrika).

“Ini bagian dari diplomasi budaya yang sedang kita kembangkan, dan bagian dari strategi pertahanan,” ujar Mendikbud Muhadjir Effendy, di Kantor Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi. Pengiriman tenaga pengajar BIPA ke negara lain menjadi salah satu bentuk diplomasi lunak atau soft diplomacy yang dilakukan pemerintah melalui Kemendikbud.

Dengan berdasar hubungan antarnegara, baik diplomasi keras maupun lunak. Diplomasi lunak dapat dijalankan dengan memperkenalkan budaya Indonesia kepada negara lain, salah satunya melalui bahasa. Namun saat ini, telah masuk berbagai nilai budaya negara lain ke Indonesia yang juga harus memiliki pertahanan dalam strategi budaya dengan aktif mengenalkan budaya sendiri ke negara lain.

“Kalaupun mereka tidak mengadopsi (budaya Indonesia), minimal mereka tahu nilai-nilai ke-Indonesia-an, misalnya nilai demokratis, atau yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila serta penuh toleransi,” tutur Mendikbud.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Dadang Sunendar mengatakan, pada tahun 2017, Kemendikbud berencana mengirimkan tenaga pengajar BIPA keluar negeri secara keseluruhan berjumlah 220 orang. Sebanyak 167 orang di antaranya sudah mendapat pembekalan dan menunggu giliran diberangkatkan ke negara tujuan.

Penutupan pembekalan tenaga pengajar BIPA kali ini merupakan angkatan yang kelima. Dari 53 orang angkatan kelima itu, sebanyak 28 orang akan dikirim ke enam negara ASEAN, yaitu Filipina, Kamboja, Myanmar, Thailand, Vietnam, dan Timor Leste.

“Pengiriman tenaga pengajar ke Thailand memperoleh porsi yang lebih banyak, yaitu 12 orang, karena negara tetangga itu pling gigih mendorong generasi mudanya untuk mempelajari bahasa Indonesia,” tutur Dadang. (Inan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *