Sabtu , 22 Juli 2017
Home / Poleksosbud / Archandra: Indonesia Krisis Minyak 12 Tahun Lagi

Archandra: Indonesia Krisis Minyak 12 Tahun Lagi

Edupost.id – Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar menyebut, Indonesia diprediksi mengalami krisis minyak 12 tahun lagi. Saat ini ‎cadangan minyak Indonesia tidak mengalami penambahan, terlebih kondisi kilang minyak yang sudah tua. Jika kondisi ini terus terjadi maka dalam 12 tahun ke depan Indonesia akan mengalami krisis minyak dalam negeri.

Pemegang paten teknologi pengeboran lepas pantai (offshore) ini menyampaikan paparannya saat menjadi pembicara dalam seminar di Fakultas Teknik Universitas Indonesia beberapa waktu lalu.

Ia menyebut, terdapat tiga pilar yang diperlukan untuk membangun kedaulatan bangsa. Pertama, pengelolaan sumber daya alam Indonesia. Kedua, kedaulatan energi. Pilar terakhir adalah investasi.

Untuk mencapai kedaulatan di bidang energi, Arcandra melihat adanya potensi untuk memanfaatkan lapangan minyak dan gas marjinal (marginal field) di Indonesia dengan teknologi yang tepat. Marginal field adalah sebuah lokasi pengeboran minyak yang umurnya pendek (kurang dari 5 tahun), dan tidak terlalu menguntungkan secara ekonomi. Di Indonesia, banyak ditemukan di lokasi pengeboran gas yang menjadi marginal field, dengan volume cadangan gas di bawah 1.3 Tcf.

Usianya yang tergolong pendek dan cadangan yang sedikit membuat proses pengeboran migas di wilayah marginal field ini memerlukan teknologi khusus agar lebih ekonomis. Penggunaan alat pengeboran yang dapat dipindah-pindahkan menjadi salah satu solusi. “Satu alat dibangun untuk multiple platform agar lebih hemat. Tidak mungkin pakai alat model jacket yang statis di satu tempat,” katanya.

Teknologi yang dapat menjadi solusi untuk marginal field ini bernama Multi-Column Tension (McT) yang didesain oleh Arcandra. Strukturnya yang sederhana membuat biaya pembuatannya lebih murah dibanding alat model lain.

Arcandra mengingatkan, untuk memulai menciptakan teknologi dari hal yang sederhana. “Jangan berpikir bahwa teknologi offshore harus canggih agar dapat dioperasikan oleh semua orang di lapangan,” tutur Arcandra. (UI/ IK-SS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *