Selasa , 24 Januari 2017
Home / Poleksosbud / Bandung Larang Iklan Rokok Dipajang di Sekolah
dilarang-merokok
Dilarang merokok

Bandung Larang Iklan Rokok Dipajang di Sekolah

Edupost.id – Kota Bandung menjadi salah satu daerah yang terus mengkampanyekan seruan untuk mengurangi rokok. Namun, nyatanya propaganda iklan rokok masih menyebar di kota ini bahkan hingga menyentuh lingkungan pendidikan. Karena itu, pihak Pemerintah Kota (Pemkot) melarang keras pemasangan iklan rokok di area sekolah.

Menurut penelitian yang dilakukan komunitas pegiat anti-rokok, Smoke Free Bandung (SFB), sebanyak 92% sekolah tercemar oleh iklan atau promosi rokok dalam berbagai bentuk yang terpajang secara eksplisit di warung, toko, minimarket di sekitar sekolah. Hal tersebut diungkapkan dalam paparan Rita Gani, media officer Smoke Free Bandung kepada Wali Kota Bandung, M. Ridwan Kamil di Ruang Rapat Bandung Command Center beberapa waktu lalu.

Baca juga: Harga Rokok Naik, Dampak Positif bagi Kualitas Generasi Muda

Menurut komunitas SFB, idealnya jarak antara sekolah dengan iklan rokok minimal sejauh 100-500 meter. “Di Jalan Pahlawan, terdapat dua sekolah, yakni SMK ICB dan SMA/SMK Sumatra 40 Bandung. Itu keluar sekolah kita langsung lihat banyak warung dengan berbagai jenis iklan rokok,” ucap Rita. Iklan tersebut berupa spanduk, stiker, hingga rokok-roko yang dipajang di etalase. Ditambahkan Rita, 2 dari 3 warung (59%) di sekitar sekolah menampilkan rokok secara istimewa di lokasi-lokasi strategi seperti etalase depan dan kasir.

Hal tersebut turut menjadi perhatian Walikota Bandung dalam upaya melindungi anak-anak usia sekolah dari paparan propaganda rokok. Ridwan menginstruksikan kepada Kepala Dinas Kesehatan untuk membentuk satuan tugas yang akan bergerak mengampanyekan seruan agar warung-warung di dekat sekolah tidak lagi memajang iklan rokok dan menjual rokok.

Bentuk kampanye yang akan dilakukan akan melalui dua tahap. Tahap pertama adalah dengan persuasif, yakni dalam bentuk himbauan kepada warung atau toko di sekitar sekolah untuk tidak memajang iklan dan menjual rokok. Tahap kedua adalah represi, yakni dengan memberikan teguran atau sanksi terhadap toko yang melanggar.

Ridwan menyarankan, salah satu bentuk komunikasi yang dijalankan adalah dengan penempelan stiker di toko-toko yang berkomitmen untuk mendukung gerakan ini. “Jadi kita akan memasang stiker, toko ini berada pada radius sekian sehingga tidak menjual rokok, dan siap diberi sanksi. Harus ada kata-kata itu,” jelas Ridwan. (Pemkot Bandung/IK-SS)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *