Rabu , 26 Juli 2017
Home / Poleksosbud / BNN: Waspada Narkoba Berbentuk Makanan!
stop narkoba
Stop narkoba

BNN: Waspada Narkoba Berbentuk Makanan!

Edupost.id, Sleman – Kepala Bidang Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Sleman, Arif Wibowo meminta, masyarakat untuk mewaspadai peredaran narkoba di wilayah masing-masing. Arif menyebut, para pengedar semakin kreatif dalam mengedarkan barang haram itu. Salah satu metode terbaru mereka adalah mencampurkan narkoba ke dalam makanan.

“Hati – hati kalau ada yang memberikan makanan gratis seperti brownis, atau permen,” ujar Arif.
Pernyataan Arif itu disampaikannya di hadapan para siswa SMKN 2 Depok Sleman dalam acara Seminar Kesehatan Reproduksi dan Napza. Seminar ini digelar di auditorium sekolah setempat Sabtu (26/3).

Arif menambahkan, para pengedar narkoba tidak pernah berhenti untuk mencari pasar baru. Dikatakannya, peredaran narkoba di Indonesia memang sangat susah untuk diberantas. Hal ini menurutnya karena antara bandar dan pemakai tidak pernah bertemu secara langsung. Para pemakai memesan narkoba melalui telepon, uang akan dibayarkan melalui transfer bank. Setelah uang diterima, narkoba akan dikirim melalui jasa kurir.

Upaya pencegahan melalui kampanye, penyuluhan menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Selain itu, keberadaan satgas anti narkoba di kalangan siswa juga cukup efektif untuk melakukan upaya pencegahan peredaran narkoba di kalangan siswa.

Selain upaya pencegahan, Arif juga mengaku sedang aktif melakukan operasi pemeriksaan di sejumlah lokasi seperti kamar kos, kafe, dan lembaga pemasyarakatan. Kabupaten Sleman sebagai daerah tujuan pendidikan menjadi rentan peredaran narkoba. Dikatakan Arif, mahasiswa yang datang dari luar daerah menjadi sasaran empuk para pengedar narkoba. Menurutnya, mahasiswa yang jauh dari pengawasan orang tua, ditambah lingkungan pergaulan yang salah menjadi faktor seseorang terjerumus dalam pengaruh obat haram ini.

Menurut Arif, ada tiga faktor utama penyebab penyalahgunaan narkoba. Ketiga faktor itu adalah individu, lingkungan, dan ketersediaan barang. Faktor individu dipengaruhi oleh rasa penasaran, keinginan untuk coba-coba, dan syarat untuk diterima kelompoknya. Faktor lingkungan sangat dipengaruhi oleh keluarga. Banyak pecandu yang berasal dari keluarga broken home.

BNN, ujar Arif, menghimbau agar para pemakai melaporkan diri ke BNN agar mendapat rehabilitasi. “Kalau melapor tidak akan dihukum. Tapi kalau ditangkap saat operasi, hukumannya sangat berat,” ujar Arif.

Namun, sayangnya tidak banyak para pemakai yang tidak mau lapor. “Mereka lebih menunggu ditangkap dari pada lapor,” imbuhnya. Padahal, para pemakai tidak akan dibiayai biaya rehabilitasi, karena semua biaya ditanggung BNN. (Andi)

Check Also

Guru garis Depan

SK CPNS Guru Garis Depan Telah Resmi Ditetapkan

Edupost.id – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah resmi menetapkan Surat Keputusan (SK) bagi 2.806 Guru …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *