Senin , 11 Desember 2017
Home / Poleksosbud / Hari Kartini Bukan Hanya Sekedar Pakai Kebaya
hari-kartini-21-april1
Hari Kartini (foto: trentekno)

Hari Kartini Bukan Hanya Sekedar Pakai Kebaya

Edupost.id, Yogyakarta – Pada era saat ini, peringatan Hari Kartini seharusnya tidak hanya dimaknai dengan memakai kebaya mengikuti tradisi berpakaian Kartini. Hal itulah yang dikatakan Khairunnisa, dari Forum Emansi Perempuan Merdeka (Feminea), sebuah komunitas perempuan mahasiswa Fakultas Sains dan Teknoligi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

“Kalau Feminea memaknai Hari Kartini bukan sekedar memakai kebaya, atau sanggul. Sekarang kan zamannya sudah beda,” ujar mahasiswa yang akrab disapa Nisa kepada Edupost.id, Kamis (21/4).

Nisa menambahkan, peringatan Hari Kartini masih sangat relevan untuk diperingati oleh generasi muda saat ini. Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga itu menambahkan, cara memperingati Hari Kartini di era saat ini dapat dilakukan dengan menyebarkan ajaran Kartini, misalnya dengan membuat tulisan tentang Kartini. Hal ini menurutnya sangat penting agar para generasi muda tidak lupa pada semangat juang Kartini.

“Kartini kan pejuang pendidikan wanita pada zamannya,” katanya. Di eranya, Kartini telah mampu mendobrak tradisi yang tidak memberikan ruang pendidikan bagi perempuan. Karena perjuangan Kartini, perempuan Indonesia saat ini dapat mengenyam pendidikan seperti halnya kaum laki-laki.

Walaupun era saat ini perempuan sudah tidak lagi terkekang oleh tradisi, bukan berarti ajaran Kartini lantas dilupakan karena dianggap kuno. Melalui moment Hari Kartini, Feminea, menurut Nisa masih meneguhkan diri untuk menjunjung emansipasi perempuan. Kesetaraan antara laki-laki dan perempuan tetap harus diperjuangkan. Namun, perlu diingat, bahwa masih ada batasan-batasan kodrati yang tidak boleh dilanggar. “Contoh sederhananya, dalam agama Islam, perempuan tidak boleh jadi imam sholat, ” ujarnya.

Dikatakannya, ada hal-hal tertentu yang sudah menjadi kodrat perempuan, dan tidak boleh dilanggar walaupun dengan alasan emansipasi. Hak mengenyam pendidikan, hak menyampaikan pendapat, hak menjadi pemimpin, itu tetap harus dimiliki oleh perempuan. Dalam konteks inilah yang menurut Nisa harus diperjuangkan dirinya dan perempuan lain agar para perempuan Indonesia tidak hanya “dikurung” di dalam rumah. (Andi)

Check Also

Sepuluh Universitas Paling Inovatif Tahun 2017

Pimpinan PTN Harus Siap Hadapi Era Disruption Innovation

Edupost.id – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menyampaikan, pimpinan PTN harus …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *