Jumat , 26 Mei 2017
Home / Poleksosbud / Iklim Berubah-ubah, Ini Pendapat Pengamat dari ITS

Iklim Berubah-ubah, Ini Pendapat Pengamat dari ITS

SURABAYA – Dunia tengah menghadapi permasalahan iklim yang serius. Suhu permukaan bumi kian memanas dan iklim yang berubah-ubah disebabkan oleh aktivitas manusia maupun perubahan iklim global. Karena itu dibutuhkan daya adaptabilitas yang tinggi terhadap fenomena tersebut. Demikian pendapat Pengamat dari ITS, Joni Hermana yang juga Rektor ITS.

Joni memaparkan tentang pengaruh aktivitas lingkungan terhadap perubahan iklim di Kota Surabaya. Uniknya, berdasarkan penelitian yang ia dan timnya lakukan selama 13 tahun, ternyata tidak ada korelasi langsung antara aktivitas manusia dengan peningkatan suhu bumi.

Aktivitas yang dimaksud Joni meliputi penggunaan energi, kendaraan dan aktivitas pertanian. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa peningkatan suhu di permukaan bumi disebabkan karena perubahan iklim yang bersifat global, meskipun tidak menutup kemungkinan secara tidak langsung, aktivitas manusia juga turut berkontribusi.

United Nations Environment Programme (UNEP) menempatkan Indonesia sebagai negara yang paling rentan terhadap perubahan iklim di Asia. Sedangkan, Kota Surabaya berada di urutan ketiga di tanah air. ”Kerentanan itu meliputi kemungkinan terjadinya bencana, sensitifitas penduduk terhadap climate change, dan sejauh mana kesiapan kita menghadapi itu,” jelas guru besar yang pakar di bidang pencemaran udara dan perubahan iklim itu.

Sementara itu, Edvin Aldrian, selaku Direktur Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menilai, meningkatnya suhu permukaan bumi tersebut membutuhkan proses adaptasi dan mitigasi yang harus dilakukan manusia agar dapat bertahan hidup. Diantara adaptasi yang perlu dilakukan adalah menekan laju emisi gas rumah kaca dan penghematan terhadap penggunaan energi listrik.

”Kami mengamati bahwa setelah Hari raya Nyepi di Bali, di mana tidak ada aktivitas yang menggunakan energi listrik, mampu mengurangi emisi karbon dioksida sebesar 30 persen. Ini sangat luar biasa,” ujarnya. Disamping itu penelitian untuk meminimalisasi dampak perubahan iklim juga harus terus dilakukan sebagai manifestasi dari climate change mitigation. (IK-SS)

Check Also

UGM Buka Ajang Bisnis Pemuda ASEAN, AYSPP 2017

UGM Buka AYSPP, Ajang Bisnis Pemuda ASEAN

Edupost.id – Kompetisi bertaraf internasional, ASEAN Youth Socialprenuership Program (AYSPP) yang digelar Universitas Gadjah Mada (UGM) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *