Sabtu , 21 Oktober 2017
Home / Poleksosbud / Indonesia Impor Garam, Ini Solusi Pakar IPB
Garam
Garam (cooktube doc.)

Indonesia Impor Garam, Ini Solusi Pakar IPB

Edupost.id – Belakangan ini, masyarakat dibuat risau dengan naiknya harga garam sehingga pemerintah memilih mengimpor dari Australia. Pakar Institut Pertanian Bogor (IPB) menghadirkan solusi masalah tersebut dengan menawarkan teknologi pengendapan garam secara cepat. Dengan demikian, kelangkaan garam bisa diatasi dan tidak perlu impor.
 
Teknologi tersebut adalah teknologi multistage precipitation. Tahun ini akan mulai diuji coba skala tambak, kerjasama antara IPB dengan Universitas Trunojoyo yang ditunjuk Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) RI sebagai pusat unggulan Iptek garam.
 
Peneliti garam dari Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB, Dr. Muhamad Khotib, menyampaikan karakteristik garam rakyat yang dihasilkan petani memiliki kadar NaCl 85-97 persen (dry basis), sehingga sangat  tidak memenuhi standar. “Umumnya garam petani di bawah standar, sehingga tidak diterima untuk industri. Pada dasarnya untuk garam konsumsi standard tersebut tidak masalah asalkan tidak mengandung logam berat,” ungkapnya.
 
Ia menyampaikan kelangkaan garam di Indonesia saat ini karena terkendala cuaca yang tidak mendukung, ditambah tidak ada stok dari petani, karena petani belum siap panen. Menurutnya, dalam memproduksi garam sangat mengandalkan suhu, panas matahari dan angin. Indonesia banyak mengimpor garam dari Australia. Namun, karena berbeda suhu dan cuaca dengan Indonesia, dimana Australia lebih dingin, sehingga proses pengkristalan garam akan lebih cepat, sehingga produksi garam pun akan lebih cepat.
 
Dengan inovasi yang dibawanya, Muhamad Khotib mengatakan, garam ketika cuaca buruk bisa disimpan di Rumah Kristalisasi yang dapat membantu mengatasi persoalan garam dan teknologi simple. Ia menambahkan, pemerintah harus lebih fokus dalam mengatasi persoalan garam dalam hal memenuhi kualitas dan kuantitas.
 
Hal senada disampaikan Wakil Rektor bidang Sumberdaya dan Kajian Strategis IPB, Prof. Dr. Hermanto Siregar. Ia menyampaikan,  garam merupakan persoalan strategis, meskipun nilai pengeluarannya lebih murah dibanding dengan kebutuhan pokok lainnya. “Sisi lain garam merupakan kebutuhan pokok yang luar biasa yang tidak bisa ditunda,” terangnya. (IK-SS)
 
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *