Sabtu , 24 Juni 2017
Home / Poleksosbud / Indonesia Produsen Ikan Terbesar tapi Tidak Bisa Ekspor
perikanan Indonesia
Perikanan Indonesia (UGM dok.)

Indonesia Produsen Ikan Terbesar tapi Tidak Bisa Ekspor

Edupost.id – Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian dunia (FAO), Indonesia merupakan negara produsen ikan terbesar kedua di dunia. Namun, Indonesia justru tidak masuk ranking 10 besar negara eksportir ikan. Disinyalir maraknya aktivitas Illegal, Unreported, Unregulated (IUU) Fishing menjadi penyebabnya.

“IUU Fishing ini sudah terjadi 20-30 tahun yang lalu, tetapi tidak banyak yang tahu. Ini seperti misteri kotak Pandora,” ungkap Kepala Badan Riset dan SDM Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI, M. Zulficar Mochtar dalam seminar di Unpad beberapa waktu lalu.

Zulficar menilai, kerugian Indonesia akibat IUU Fishing terus meningkat setiap tahunnya. Kendati kejahatan pelanggaran penangkapan ikan di laut ini banyak, pemahaman akan pelanggaran IUU Fishing ini belum banyak. Banyak pelanggar yang melakukan aktivitas IUU Fishing lepas dari jerat hukum karena kurangnya pemahaman mendalam soal IU Fishing di tingkat Kejaksaan.

Sebagai contoh, tambah Zulficar, pihaknya berhasil menangkap kapal asing bervolume 1.200 gross ton (GT) yang melakukan IUU Fishing di perairan Indonesia. Setelah diinvestigasi, kapal tersebut memilki jaring sepanjang 399 kilometer dan memiliki 32 bendera.

Pasca eksekusi tersebut, Kementerian KKP kemudian mengeluarkan moratorium bagi kapal-kapal asing. Fakta di lapangan, disinyalir tidak kurang dari 7.000 kapal asing yang melakukan penangkapan ikan secara ilegal di perairan Indonesia. “7.000 kapal asing itu berasal dari 10 negara,” terangnya.

Begitupula, pelarangan penggunaan pukat, trawl, cantrang, bom, dan bius ikan terus dilakukan Pemerintah. Selain mampu mengeksploitasi ikan besar-besaran, aktivitas ini semakin merusak ekosistem perairan Indonesia. Upaya lainnya ialah alih alat tangkap, transparansi perizinan, pembiayaan bagi nelayan dan pembangunan sentra kelautan perikanan terpadu di pulau-pulau kecil dan kawasan perbatasan.

Zulficar menambahkan, pelaksanaan langkah operasional ini membutuhkan kerja sama seluruh pihak. “Upaya ini tidak hanya bisa dilakukan oleh lulusan Perikanan dan Kelautan saja, tetapi seluruh bidang ilmu harus bergerak bersama-sama,” ucapnya. (Unpad/IK-SS)

Check Also

alat-bantu-penangkapan-ikan-rumpon

Pakar Perikanan IPB Kritisi Pemerintah tentang Rumpon

Edupost.id – Para akademisi di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *