Selasa , 24 Januari 2017
Home / Poleksosbud / Ini Solusi dari Peneliti ITB untuk Cepat Atasi Asap

Ini Solusi dari Peneliti ITB untuk Cepat Atasi Asap

Edupost.ID – Kasus kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan tiap tahun terus terulang. Menjelang akhir 2015 ini, situasi semakin memburuk dipicu kekeringan akibat El Nino dan aktivitas manusia yang tidak bertanggungjawab. Kesehatan masyarakat menjadi terancam. Peneliti ITB yang juga dosen Teknik Lingkungan dari Kelompok Keahlian Pengelolaan Udara dan Limbah, Haryo Satriyo Tomo memberikan solusi bagaimana cara mengatasi asap dengan cepat.

Haryo memaparkan bahwa di dalam lahan tersebut (di bawah top soil) terjadi pirolisis lambat. Pirolisis adalah dekomposisi kimia senyawa organik melalui proses pemanasan hingga berubah menjadi fase gas. Beliau berujar bahwa pirolisis lambat ini sulit dideteksi karna terjadi di bawah permukaan tanah. Efek samping dari pirolisis adalah lepasnya gas ke udara kemudian berinteraksi dengan uap air sehingga membentuk kabut. Selain itu, ada saatnya pirolisis yang merambat terkespos oksigen bebas sehingga langsung menyulur kobaran api yang bisa berdampak terbentuknya asap tebal.

Ia menilai, seharusnya ada usaha mematikan sumber utama api dengan segera. Teknik yang digunakan adalah membentuk ring of fire atau teknik pemutus api. Lingkaran api yang dibuat mengelilingi lahan terbakar akan mengonsumsi oksigen di udara bebas sehingga kebakaran di lahan pun menjadi paham akibat kehabisan oksigen. Walaupun masih dengan teknik sederhana, sejauh ini teknik pemutus api masih diaplikasikan di dunia.

Air diperlukan untuk memadamkan api, lanjut Haryo, termasuk untuk menurunkan suhu sehingga menghambat terjadinya pirolisis. Ada harapan yang baik karena kini pola angin telah mulai berhembus dari Pasifik sehingga membawa lebih banyak butir air. Diharapkan angin dapat menyebabkan hujan di daerah Barat Indonesia.

Menurut Haryo, tidaklah cukup bila hanya menunggu hujan alami. Hujan buatan juga sangat dibutuhkan, yaitu dengan segera mengirimkan helikopter yang bisa menyirami lahan-lahan terbakar. Selain itu, penyemprotan langsung titik-titik api diharapkan juga dilakukan oleh aparat dan masyarakat sekitar. Secara individual, masyarakat juga bisa melakukan penyemprotan secara vertikal (ke atas) di halaman rumah sehingga partikulat (butiran polutan padat) bisa terpresipitasi (turun ke bawah tanah) sehingga mengurangi konsentrasi partikulat pada ketinggian yang bisa terhirup. (ITB/IK-SS)

Check Also

Institut Pertanian Bogor (IPB)

IPB Tuan Rumah Workshop Kedokteran Hewan Indonesia dan Jepang

Edupost.Id- Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Institut Pertanian Bogor (IPB) menjadi tuan rumah dalam acara workshop …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *