Sabtu , 21 Oktober 2017
Home / Poleksosbud / Jenderal TNI Gatot : 70 Persen Konflik Dunia Dipicu Energi dan Pangan
Jenderal TNI Gatot Nurmantyo
Jenderal TNI Gatot Nurmantyo

Jenderal TNI Gatot : 70 Persen Konflik Dunia Dipicu Energi dan Pangan

Edupost.id – Lebih dari 70 persen konflik yang terjadi di dunia dipicu perebutan sumber energi dan pangan. Demikian disampaikan Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal Gatot Nurmantyo saat memberikan kuliah umum di Institut Pertanian Bogor (IPB) beberapa waktu lalu.
“Dengan penambahan kebutuhan energi dunia sebesar 41 persen pada tahun 2035, maka energi fosil dunia diperkirakan akan habis tahun 2043.  Konflik ini sangat wajar terjadi, sebab masing-masing negara wajib menjamin keselamatan warganya dan mengamankan ketersediaan energi yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup bangsanya. Entah itu berasal dari eksplorasi dalam atau melalui kerjasama dengan luar negeri,” paparnya.
Ia menilai, banyak pakar dan akademisi di seluruh dunia juga berusaha menciptakan energi  terbarukan sebagai pengganti energi fosil. Kecenderungan peningkatan penggunaan bioenergi memicu krisis harga pangan dunia  meningkat sangat tajam. “Krisis pangan di Venezuela dan Kolumbia menyebabkan masalah sosial dan kriminal,” ujarnya.
Di Indonesia, krisis pangan bisa kapan saja terjadi dan patut diwaspadai. Ia menyampaikan perbandingan harga beras pada tahun  2017,  di Indonesia rata-rata harganya Rp 12.200, sementara harga beras broken white di Kamboja 5 persen Rp 6.317, beras broken white di Thailand Rp 4.482, dan beras putih grade B di Vietnam Rp 5.107.  Kondisi ini menjadi kesempatan berbagai pihak melakukan impor beras dan mengganggu ketahanan pangan nasional.
Gatot mengatakan, pertanian mempunyai peran yang sangat penting. Pertanian merupakan faktor penentu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada tahun 2016 sektor pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan menyumbang pertumbuhan ekonomi 5,02 persen dan menjadi faktor menentukan bagi ketahanan bangsa.

“Mari kita maksimalkan modal geografi Indonesia baik dari sisi maritim maupun agraris untuk mewujudkan ketahanan bangsa. Mahasiswa IPB, kalian patriot sejati, belajarlah yang rajin untuk nantinya membantu kesejahteraan petani. Belajar untuk mewujudkan ketahanan dan kedaulatan bangsa,” jelasnya. (IPB/IK-SS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *