Rabu , 18 Oktober 2017
Home / Poleksosbud / Kekerasan terhadap Anak Rentan Terjadi di Lingkungan Keluarga

Kekerasan terhadap Anak Rentan Terjadi di Lingkungan Keluarga

Edupost.ID – Kementerian Sosial mencatat kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia cenderung terjadi di dalam lingkungan keluarga. Lokasi lain yang rentan terjadi kekerasan ialah di pasar, fasilitas publik, hingga area sekolah. Hampir semua lingkungan menjadi tidak aman bagi anak.

Demikian yang disampaikan Edi Suharto, Direktur Kesejahteraan Sosial Anak, Kementerian Sosial RI, saat memberikan kuliah umum “Kebijakan Perlindungan Anak di Indonesia” di Unpad.

Edi menyebutkan, keluarga masih banyak yang belum memahami hak anak. Kondisi lingkungan rumah pun turut memengaruhi munculnya tindak kekerasan ini. Kondisi ini yang memerlukan perhatian khusus dari para pekerja sosial.

Tindak kekerasan ini akan berpengaruh negatif pada perkembangan otak anak. Mereka akan rentan mengalami stres tinggi, berpotensi bunuh diri, hingga cenderung melakukan perilaku menyimpang, seperti alkohol dan obat-obatan terlarang.

Dalam hal pola asuh, harapan untuk memenuhi kesejahteraan anak juga belum memadai. Realitas yang ada, kebanyakan anak banyak diasuh oleh orang lain, bahkan hingga dititipkan ke panti asuhan. Kebijakan pengasuhan anak yang seharusnya diterapkan oleh orang tua belum bisa dilaksanakan dengan baik.

Pihaknya melalui Kemensos melakukan reorientasi fungsi panti asuhan. Menurut Edi, sebagian anak yang tinggal di panti asuhan masih memiliki orang tua. Untuk itu, peran panti asuhan ialah mendorong kembalinya anak ke orang tuanya.

Bila orang tua tidak sanggup mengasuh anaknya, Edi menyarankan untuk tidak langsung dititip ke panti asuhan. Namun, sebaiknya diasuh oleh kerabat atau saudara kandung orang tua, wali, orang tua asuh, atau orang tua angkat. Bila tidak bisa, panti asuhan adalah alternatif terakhir.

Terkait sistem perlindungan anak, saat ini masih belum terintegrasi, belum jelas bagaimana prosedurnya. Selain itu, Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) yang berperan dalam penguatan peran keluarga, belum memiliki fasilitas dan sumber daya manusia yang memadai. Karena itu, hingga kini standar nasional mengenai pengasuhan anak belum diterapkan dengan baik.

Di hadapan mahasiswa Kesejahteraan Sosial, Edi pun mendorong mahasiswa untuk menjadi pekerja sosial di bidang perlindungan anak. Menurutnya, perlindungan anak merupakan komponen pembangunan bangsa. Peran pekerja sosial sangat penting dalam kasus perlindungan anak. (Unpad/IK-SS)

Check Also

Biaya-Dinas-Pejabat-Sedot-Anggaran-Dikti

Kemdikbud Dapat Anggaran 40 Trilyun dari RAPBN 2018

Edupost.id – Dalam rapat kerja antara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ( Mendikbud) Muhadjir Effendy dengan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *