Minggu , 28 Mei 2017
Home / Poleksosbud / Kemarau Panjang, 11 Anak di NTT Meninggal Akibat Gizi Buruk

Kemarau Panjang, 11 Anak di NTT Meninggal Akibat Gizi Buruk

NTT- Kemarau panjang yang melanda di sejumlah daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur menyebabkan banyak terjadi gagal panen. Hal ini semakin memperburuk kondisi gizi di kalangan anak-anak. Menurut data Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur, terdapat 1.918 anak mengalami gizi buruk selama lima bulan pertama tahun 2015. Bahkan, 11 di antaranya meninggal dunia.

Kasus kekeringan terjadi setiap tahun di NTT, namun bencana tahun ini dirasakan lebih parah, seperti yang terjadi di enam desa di Kabupaten Timor Tengah Selatan. “Daerah itu di pesisir pantai di bagian selatan Pulau Timor, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Di enam desa itu kering karena hujannya tahun ini cuma tiga kali,” terang Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan, Husein.

“Sehingga dalam jangka waktu itu, tanaman padi maupun jagung tidak bisa diatasi karena daerahnya kering,” tuturnya. Akibatnya, sekitar 1.000 jiwa di enam desa mengalami rawan pangan.

Kekurangan pangan akibat kekeringan bukan penyebab tunggal gizi buruk pada anak-anak. “Keluarga biasanya memberikan porsi besar kepada para suami. Anak-anak mendapatkan sisa makanan dari bapak-bapak. Artinya, porsi yang seharusnya diberikan kepada anak-anak kadang-kadang kurang diperhatikan, yang lebih diutamakan adalah orang tuanya,” papar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Timor Tengah Utara, Dery Fernandez.

Tahun ini, lanjutnya, 106 balita di Kabupaten Timor Tengah Utara menderita gizi buruk dan sebagian besar dari mereka telah pulih setelah diberi makanan tambahan selama tempo 90 hari. “Tinggal 18 anak yang sedang dalam proses penanganan,” kata Dery Fernandez.

Selain karena kurangnya pemahaman pola makan, persoalan gizi buruk masih sulit diatasi jika sumber pendapatan penduduk hanya mengandalkan pertanian.

“Persoalan kami adalah karena musim hujannya hanya empat bulan, itu pun tidak setiap hari. Musim kemarau delapan bulan. Jadi bagaimana bisa kami andalkan pertanian? Jadi harus diubah, mata pencaharian dan sumber makanannya bukan dari pertanian” tandas Kepala Dinas Kesehatan NTT, Stefanus Bria Seran. (BBC/IK-SS)

Check Also

UGM Buka Ajang Bisnis Pemuda ASEAN, AYSPP 2017

UGM Buka AYSPP, Ajang Bisnis Pemuda ASEAN

Edupost.id – Kompetisi bertaraf internasional, ASEAN Youth Socialprenuership Program (AYSPP) yang digelar Universitas Gadjah Mada (UGM) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *