Selasa , 17 Oktober 2017
Home / Poleksosbud / Marak Kekerasan Anak, DPD RI: Negara dan Aparat Gagal

Marak Kekerasan Anak, DPD RI: Negara dan Aparat Gagal

Edupost.id – Kasus kekerasan anak kian marak, negara dan aparat turut berperan dalam menangani hal ini. Angka kekerasan yang tetap tinggi disebabkan kegagalan negara dan aparat dalam memberi jaminan keamanan dan perlindungan warga. Demikian penilaian yang disampaikan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Farouk Muhammad dalam akun media sosialnya.

“Peristiwa yang terjadi tidak lepas dari kegagalan negara dan segenap aparatnya dalam memberi jaminan keamanan dan perlindungan warga, terutama terhadap anak-anak,” tulisnya dalam akun @fm_prof.

Farouk Muhammad mengungkapkan, DPD RI menyatakan keprihatinannya terhadap kasus kekerasan seksual yang menimpa anak dan perempuan. Ia menghimbau, agar semua pihak baik pemerintah dan aparat penegak hukum, wajib mengutamakan perhatian terhadap penanganan korban. Kemudian, fokus atas penindakan terhadap pelaku.

“Dalam hal korban meninggal, seperti kasus Y (Yuyun), maka perhatian lebih harus diberikan kepada keluarga melewati masa-masa sulit dan berkabung. Negara, yakni aparat keamanan, harus mampu membangunkan kesadaran dan kewaspadaan warga dalam pola kehidupan bersama,” jelasnya.

Menurutnya, aparat penegak hukum dan masyarakat tidak sekedar bertindak reaktif terhadap kasus tersebut. Perlu adanya penegasan bahwa perlindungan terhadap warga negara dan anak wajib komprehensif. Saat ini, perlu adanya desakan pembangunan kesadaran nasional. Tentunya tidak hanya pada penegak hukum.

“Undang-undang tidak akan memiliki arti bila praktik sosial yang terjadi tidak sesuai,” tegasnya.

Pemberian hukuman yang berat, lanjut Farouk Muhammad, merupakan pilihan terakhir bagi pelaku. Sementara itu, masyarakat perlu segera membangun kembali pola komunitarian dengan kearifan lokal yang saling melindungi. Menciptakan suasana aman juga perlu dibangun.

Upaya lain, tambahnya, yaitu pendidikan hukum yang layak kepada masyarakat dan generasi muda. Khususnya dalam kerangka sistem sosial yang peka terhadap kekerasan dan terhadap perlindungan anak. Tampilan simbol keamanan juga perlu mudah dijangkau di sepanjang waktu dan tempat.

“Adanya jaminan kepastian yang optimal dalam menegakan hukum jika terjadi pelanggaran. Penghukuman berat kepada pelaku menjadi adil jika negara dan masyarakat telah jalankan kewajibannya bangun kondisi kehidupan yang aman dan saling melindungi,” tuturnya. (Nisa)

Check Also

Monica, Siswa MTs Yapi Sleman

Monica, Siswa MTs Yapi Sleman Jadi Pembicara di Forum WHO

Edupost.id – Seorang bocah perempuan bernama Monica beberapa hari ini mendadak viral di dunia maya. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *