Selasa , 17 Oktober 2017
Home / Poleksosbud / Sembilan Tari Bali Jadi Warisan Budaya Tak Benda UNESCO
34-Tim-Berlaga-di-Festival-Tari-Anak 
Ilustrasi: Penari Bali

Sembilan Tari Bali Jadi Warisan Budaya Tak Benda UNESCO

Edupost.id – Setelah melewati proses panjang, sembilan Tari Bali akhirnya disahkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda UNESCO. Penelitian untuk sembilan tari Bali ini dimulai tahun 2010 dengan melibatkan Peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan.

Saat acara pembukaan Pesta Kesenian Bali ke-38, (11/6), Mendikbud Anies Baswedan menyerahkan  sertifikat UNESCO Three Genres of Traditional Dance in Bali kepada Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika.

Mendikbud mengatakan, sertifikat yang diterima ini merupakan bukti otentik bahwa ada sembilan tari Bali yang masuk dalam warisan budaya tak benda dunia. Sertifikat itu, bukan untuk pemerintah, tapi untuk seluruh perjalanan budaya masyarakat Bali.

Tahun 2011, tiga genre diusulkan bersama-sama dengan Noken dan Taman Mini Indonesia Indah. Tetapi ada kebijakan baru dari Sekretariat Intangible Cultural Heritage UNESCO, untuk hanya memproses satu warisan dari setiap negara per tahun, sehingga Tiga Genre dan Taman Mini Indonesia Indah ditunda pembahasannya. Pada tahun itu, Indonesia mengajukan Noken (Noken Multifunctional Knoteed and Woven Bag from people of Papua) dan masuk dalam daftar UNESCO tahun 2012.

Selanjutnya tahun 2014, Tiga Genre kembali diajukan untuk diproses dan dibahas tahun 2015. Pada tanggal 2 Desember 2015, melalui sidang ke-10 Intangible Cultural Heritage UNESCO di Windhoek, Namibia, Tari Bali yang diusulkan dengan judul Tiga Genre Tari Tradisional Bali (Three Genres of Traditional Dances in Bali) masuk dalam kategori Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity.

 Tiga genre tari dalam kebudayaan Bali tersebar di sembilan kabupaten/kota Provinsi Bali, meliputi Kabupaten Karangasem, Klungkung, Bangli, Gianyar, Badung, Tabanan, Jembrana, Buleleng dan Kota Denpasar. Tiga genre tarian ini berlaku di semua wilayah Bali, dengan mengikuti prinsip-prinsip berdasarkan desa (tempat), Kala (waktu), dan patra (acara).  (Kemdikbud/IK-SS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *