Rabu , 18 Januari 2017
Home / Poleksosbud / Seminar KAPSIGAMA : LGBT Sebuah Gerakan, Bukan Fakta Sosial
Seminar KAPSIGAMA 93 bertajuk LGBT Pencegahan dan Penanganannya di ruang G 100 Fakultas Psikologi UGM 123. foto-fitriedupost

Seminar KAPSIGAMA : LGBT Sebuah Gerakan, Bukan Fakta Sosial

Edupost.ID, Sleman – Diskusi LGBT biasanya berfokus pada legal tidaknya perbuatan ini. Namun, Keluarga Alumni Psikologi Gadjah Mada atau KAPSIGAMA ’93 mengambil perspektif berbeda. KAPSIGAMA ’93 mengadakan seminar bertajuk LGBT: Pencegahan dan Penanganannya, Sabtu (12/3). Seminar diselenggarakan di ruang G-100 Fakultas Psikologi, UGM.

“Berangkat dari keprihatinan saat ini, LGBT tidak lagi hanya sebuah penyakit, tapi lebih pada sebuah gerakan,” ungkap ketua panitia, Hepi Wahyuningsih.

Ia melanjutkan, bahwa masyarakat harus berjuang melawan gerakan tersebut, karena ternyata ada bahaya yang mengancam di balik itu. Mahasiswa, guru, orang tua, dan semua lapisan masyarakat perlu memberikan penyadaran, pencegahan, dan penanganan.

Peserta yang hadir sekitar 260 orang yang berasal dari mahasiswa, dosen, dokter, dan berbagai elemen. Hepi mengaku bahwa, peserta melebihi target. Semula hanya ditargetkan 250 orang, namun pendaftar mencapai 280 orang. Pendaftar tidak hanya dari wilayah DIY, namun hingga luar provinsi seperti Bandung.

“Kita semua sepakat ya, mencegah lebih baik daripada mengobati,” kata Pihasniwati, Dosen Psikologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, pembicara pertama.

Pihasniwati memaparkan tentang kasus-kasus LGBT yang ia tangani, menekankan pada pentingnya peran keluarga, serta bagaimana kontribusi sekolah. Sedangkan pembicara kedua, Setiyo Purwanto, memaparkan tentang pengelolaan dorongan seksual dalam perspektif spiritual. Contoh kasus yang diangkat adalah Nabi Yusuf yang berhasil lepas dari bujukan Zulaikha. Terakhir membahas tentang penanganan kasus LGBT melalui konseling dan terapi.

Dari ketiga pembicara disepakati bersama bahwa LGBT bukan fakta sosial, bukan permasalahan HAM juga. Masalah LGBT sama seperti abnormalitas, psikopatologi, phobia, onani, masturbasi, dan gangguan psikologi lainnya. Sehingga butuh dicegah dan disembuhkan. Sedangkan sikap yang harus diambil masyarakat adalah merangkul LGBT, serta menolak kampanye dan menolak legalisasi LGBT.

Rencananya setelah ini mereka akan mengadakan seminar dengan tema yang sama di Solo. Menurut Hepi, seminar LGBT yang berfokus pada pencegahan dan penanganan perlu digencarkan di kampus-kampus. LGBT merupakan penyakit yang harus disembuhkan. Mahasiswa rentan terpengaruh LGBT, misalnya dengan adanya Gays Night, Ladies Night, dan sebagainya. (Fitri)

Check Also

SBMPTN

Pendaftaran Bidikmisi 2017 Sudah Dibuka

Edupost.ID – Proses pendaftaran Bidikmisi 2017 mulai dibuka. Bidikmisi merupakan program bantuan biaya pendidikan bagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *