Sabtu , 25 Maret 2017
Home / Prestasi Pemuda / Berkat Krim Diabetrin, Wekson dan Kaisar Raih Penghargaan dari Kemenpora
Wekson Bagariang dan Kaisar Akhir membuat krim penyembuh luka diabetes atau Krim Diabetrin.

Berkat Krim Diabetrin, Wekson dan Kaisar Raih Penghargaan dari Kemenpora

Edupost.ID, Bogor – Banyaknya penderita diabetes yang sulit disembuhkan, membuat dua mahasiswa IPB, Wekson Bagariang dan Kaisar Akhir membuat krim penyembuh luka diabetes atau Krim Diabetrin. Krim yang terbuat dari limbah perikanan, membawa mereka masuk ke dalam 30 Inovasi Terbaik dengan hadiah Rp 10 juta dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI.

“Kami menang Ajang Lomba Inovasi IPTEK Pemuda Nasional. Bersyukur dan senang dapat berkontribusi dalam pengembangan dan pemanfaatan sumber daya laut (cumi dan ikan),” ujar anggota tim, Kaisar Akhir, Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan kepada Edupost.ID, (20/1).

Kaisar menambahkan, krim tersebut merupakan salah satu upaya dalam peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, khususnya penderita luka diabetes. Manfaat yang didapat dari penggunaan krim diabetri yaitu untuk mempercepat penyembuhan luka diabetes.

Pendapat serupa disampaikan ketua tim, Wekson Bagariang,  Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, nama diabetrin dilatar belakangi dari penyakit diabetes dan juga untuk memudahkan nantinya konsumen mengingat produk. Krim tersebut terbuat dari limbah perikanan pen cumi (kitosan) dan kulit ikan (kolagen). Sementara bahan aktif yang digunakan yaitu kitosan. Kitosan ini memiliki keistimewaan yang dimana bahan aktif tersebut memiliki banyak fungsi.

“Sebagai polielektrolit pengolahan limbah cair, pengikat dan penyerap (ion logam, mikroorganisme, mikroalga, pewarna, residu pestisida dan lemak), pembentuk film, pencampur ransom pakan ternak, antimikroba, antijamur, serat bahan pangan dan penstabil. Serta kitosan juga memiliki fungsi sebagai antitumor dan antivirus,” jelasnya.

Wekson mengungkapkan, proses awalnya yaitu pembuatan kitosan dari pen cumi melewati proses deproteinisasi, demineralisasi dan deasetilisasi. Kemudian pembuatan kolagen melewati proses pretreatment, hidrolisis kulit, dan ekstraksi. Lalu barulah pembuatan basis krim yang nantinya akan dicampurkan dengan bahan aktifnya yaitu kitosan dan kolagen.

Kesulitan yang sempat dihadapi tim menurut Wekson yaitu awal pembuatan kitosan agak sulit karena membutuhkan ketelitian dalam pengerjaannya. Ketika melakukan ujicoba pada tikus, perlu membutuhkan tenaga ahli.

“Kami berharap kedepannya bisa melakukan kerjasama dengan PT. Bogor Life Science Technology (BLST) untuk nantinya dapat membantu dalam melakukan uji klinis (agar aman jika dipakai nantinya ke manusia), mendapakan No.BPOM dan halal MUI serta dapat diproduksi skala menengah dan dipasarkan di Jabodetabek,” tutupnya. (Nisa)

Check Also

fahimudin kholida man 3 bantul

Dua Siswa MAN 3 Bantul Raih Emas World Mathematics Invitational 2017

Edupost.ID – Dua siswa MAN 3 Bantul kembali berprestasi di kancah nasional setelah berhasil meraih …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *