Kamis , 15 November 2018
Home / Profil Inspiratif / 20 Tahun Ajak Masyarakat Jauhi Rokok, Yayi Akhirnya Jadi Profesor

20 Tahun Ajak Masyarakat Jauhi Rokok, Yayi Akhirnya Jadi Profesor

Edupoist.id – Setelah 20 tahun banyak melakukan riset tentang perilaku hidup sehat dan promosi kesehatan tentang dampak bahaya rokok, Dra. Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D., telah mengantakannya menyandang gelar profesor. Pengukuhan sebagai Guru Besar bidang kesehatan masyarakat dan keperawatan dilakukan di Balai Senat UGM, Kamis (15/2).

Kampanye bebas asap rokok sudah didengungkan Yayi sejak 1990, sejak ia pertama kali diangkat sebagai dosen di FK UGM. Minimnya riset soal rokok di Indonesia, kata Yayi, menjadikan rokok menjadi topik risetnya sejak S2 hingga S3.

“Dulu kajian rokok sangat minim, saya pilih topik ini, apalagi saat itu saya bisa dikatakan satu-satunya dosen FK yang bukan dokter,” kata lulusan sarjana psikologi UGM ini.

Kakak kandung Mantan Menpora, Roy Suryo ini dalam kiprahnya mengedukasi masyarakat tentang bahaya merokok dengan membentuk kampung dan rumah bebas asap rokok di Kota Yogyakarta. Gerakan bebas asap rokok yang dilakukannya sejak 2006 lalu itu bisa menurunkan jumlah perokok hingga 3 persen dan 50 persen laki-laki sudah tidak lagi merokok di dalam rumah.

“Sekarang sudah ada 130-an rumah dan 40 kampung yang mendeklarasikan bebas asap rokok. Sekitar 70 persen laki-laki setuju kalau di rumahnya bisa bebas asap rokok,” kata wanita kelahiran Yogyakarta, 53 tahun silam ini.

Tidak hanya menginisiasi kampung bebas asap rokok, Yayi juga ikut serta dalam mendorong area kampus Fakultas Kedokteran sebagai area bebas asap rokok pada tahun 2004. Lalu tahun 2008 disusul deklarasi yang sama di tingkat universitas. Bahkan, katanya, di FK UGM sudah tidak lagi menerima beasiswa dari perusahaan rokok sejak 2006.

Meski tetap terus menggelorakan kampanye anti rokok, Yayi tetap optimis suatu saat Indoneia akan meniru negara lain di dunia yang meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) sebagai dasar pengembangan kebijakan pengendalian tembakau yang telah ditandatangani lebih dari 173 negara.

Menurutnya, pengendalian tembakau di Indonesia belum optimal. Di negeri ini, iklan rokok masih dipasang, rokok masih dijual bebas hingga batangan, dan harga rokok masih sangat murah. Program promosi kesehatan perlu digenjot oleh pemerintah terutama tentang pengendalian rokok. Dana JKN tahun 2016 lalu sebesar Rp7,4 triliun dihabiskan untuk diagnosis penyakit kardiovaskuler.

“WHO sudah menyebutkan bahwa berbagai penyakit tidak menular saat ini besar pemicunya karena rokok, sudah saatnya tenaga medis membiasakan untuk menanyakan pada pasien apakah sebelumnya mereka memiliki kebiasan merokok,” katanya. (Andi)

Check Also

Cara Orangtua Hadapi Anak yang Iri dengan Temannya

Betulkah Anak Pertama Lebih Pintar daripada Adiknya ?

Edupost.id – Kabar gembira bagi Anda yang termasuk anak sulung. Riset terbaru menunjukkan bahwa anak sulung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

=[Tutup Klik 2x]=