Kamis , 23 Maret 2017
Home / Profil Inspiratif / Alwan Hafizh, Mapres UGM: Ada Faktor-X dari Orang Tua
Alwan Hafidz
Alwan Hafidz, Mapres UGM

Alwan Hafizh, Mapres UGM: Ada Faktor-X dari Orang Tua

Edupost.id, Yogyakarta – Ketika kita mengikuti apa yang orang tua kita inginkan, patuh dengan orang tua, bahkan kakek kita, nenek kita, blessingnya lebih besar dari pada kita sok tahu. Ada sebuah faktor-X yang sangat kuat, dan itu hasil dari kasih sayang orang tua. Itulah ungkapan sarat makna dari seorang Alwan Hafizh, sebuah keyakinan amat mendalam, bahwa segala keberhasilan yang diraih hanyalah karena doa dan dukungan orang tuanya.

Alwan pun tak pernah menyangsikan, karena doa orang tuanya ia dapat menyandang gelar Mahasiswa Berprestasi (Mapres) Utama UGM Tahun 2016 dari program sarjana.

Mahasiswa kelahiran Jakarta, 21 Desember 1995 ini mengaku amat berbahagia dan berbangga dengan raihan prestasi terbarunya ini. Namun, di sisi lain ia pun harus menanggung beban di pundaknya. Menjadi mapres UGM artinya harus siap membawa nama baik kampusnya pada pemilihan mahasiswa berprestasi nasional yang diadakan Kemenristek-Dikti. “Satu sisi bangga, satu sisi mendapat tanggung jawab besar,” begitu katanya.

Menjadi mapres utama, baginya bukanlah sebuah prestasi yang datang tiba-tiba. Prestasi ini adalah sebuah akumulasi perjalanan panjang dari aktivitasnya yang sudah ditempuh sejak masih SMP. Dikatakannya, dalam seleksi mapres UGM tahun ini, ia menulis karya tulis tentang pelatihan kepemimpinan masif yang dibangun melalui pendekatan sistemik Industrial Enginering untuk mengatasi krisis kepemimpinan di Indonesia. Pemikiran ini juga tidak serta merta muncul begitu saja. Pemikiran ini muncul sebagai akumulasi pengalamannya dalam pelatihan kepemimpinan yang pernah ia ikuti sejak SMP.

Pelatihan kepemimpinan ini rupanya telah membuka matanya bahwa ada sebuah krisis kepemimpinan di negeri ini. ”Saya melihat rupanya masih sangat terbatas untuk pemuda. Untuk itu saya membuat model pelatihan kepemimpinan dan semua pemuda Indonesia dapat mengakses itu, apalagi sekarang kita lagi diterpa krisis kepemimpinan, hanya sedikit pemimpin yang bisa jadi teladan di Indonesia,” ungkapnya.

Mahasiswa Teknik Industri UGM angkatan 2013 ini memiliki kisah menarik sebelum resmi menjadi mahasiswa UGM. Selepas lulus dari SMA Labschool Jakarta, guru dan teman-temannya menyarankan dirinya untuk masuk ke Fakultas Hukum atau Ilmu Politik. Mereka menilai, Alwan memiliki skill komunikasi yang amat baik, dan amat mendukung jika ia fokus si bidang hukum atau politik. Namun, hanya empat orang yang tidak mengizinkannya masuk ke Fakultas Hukum. Mereka adalah kedua orang tua, serta opa dan omanya.

“Guru- guru kamu, teman-teman kamu, baru lihat kamu tiga tahun terakhir, mama papa sudah melihat kamu dari kecil. Kemampuan negosiasi kamu, kemampuan kepekampinan kamu lebih tepat untuk membangun masyarakat dengan membuka lapangan kerja, mengembangkan bisnis dan segala macamnya, itu lebih bermanfaat untuk rakyat,” ujar papanya kala itu. Orang tuanya lebih menginginkan Alwan kuliah di bidang industri.

Mendengar kata-kata kedua orang tuanya, Alwan tak mampu membantah. Ia memutuskan untuk mengambil jurusan yang sesuai di Jerman. Ketika ia sudah diterima di salah satu universitas di Jerman, langkahnya harus terhenti karena ditentang oleh opa dan omanya. Mereka khawatir cucu tercintanya akan kehilangan rasa nasionalismenya ketika kuliah di luar negeri. Tak mau membantah kehendak opa omanya, Alwan memutuskan untuk mendaftar kuliah di Indonesia. Namun, ternyata tak mudah untuk bisa diterima kuliah di Indonesia. Ia gagal dalam SNMPTN maupun SBMPTN. Untungnya, ia bisa diterima melalui jalur Ujian Mandiri UGM sehingga bisa tercatat sebagai mahasiswa Teknik Industri di kampus ini.

Sejak menjadi mahasiswa UGM, Alwan mengaku telah memperoleh beberapa penghargaan dalam ajang Model United Nation (MUN), baik dalam skala nasional maupun internasional. Pada tahun pertamanya di UGM, Alwan bergabung dalam UGM Model United Nations Club. Hanya membutuhkan waktu dua bulan hingga akhirnya dia lolos seleksi untuk menjadi delegasi dalam Harvard National Model United Nations 2014. Ia bahkan terpilih sebagai Ketua Delegasi.

Setelah itu, selama 2 tahun terakhir, ia telah berkompetisi di 5 ajang nasional MUN dan 3 International MUN. Internasional MUN yang diikuti adalah Harvard National Model United Nation (HNMUN) di Boston, Amerika Serikat, YALE NUS Asia Pacific Model United Nation Singapore, dan Asia Pacific Model United Nation Conference (ANMUNC) di Perth, Australia, pada 29 Juni – 4 Juli 2015 Pada ajang ini, ia bahkan mampu merebut gelar Best Delegate. Ia juga berhasil mengantarkan UGM mampu merebut posisi Best Small Delegation.

Atas prestasinya itu, UGM menghadiahinya dengan pemberian Mahasiswa Outstanding Teknik Industri ini, dan merasa terhormat untuk diakui sebagai mahasiswa luar biasa oleh Rektor. Tidak hanya berprestasi dalam MUN, putra pasangan Herizal Buanamy dan Epinarlin Isnainu ini juga terlibat dalam Himpunan Mahasiswa Teknik Industri. Ia juga aktif dalam organisasi Ikatan Mahasiswa Teknik Industri Indonesia.

Perjalanan hidupnya berlanjut dengan memulai mendirikan perusahaan konsultasi tentang kepemimpinan. Ia pun banyak mengisi pelatihan kepemimpinan di berbagai daerah. Misinya, ia ingin membuka akses yang lebih luas untuk memberikan pelatihan kepemimpinan bagi pemuda. Pada Desember 2015, dari tangannya terlahir sebuah buku berjudul Youth Leadership. Diakui Alwan, buku itu adalah buku kepemimpinan pertama yang ditulis oleh pemuda dan untuk pemuda. Saat ia percaya bahwa jalur ini bisa membawa dampak yang lebih signifikan terhadap masyarakat dan terutama bagi jutaan pemuda Indonesia.

“Ada ketertarikan saya aktif ke organisasi rupanya memberikan dampak saya bisa ikut lomba bidang simulasi sidang PBB, menulis buku, dan sekarang saya jadi Ketua Komunitas Mahasiswa Berprestasi UGM,” ungkap putra sulung dari tiga bersaudara ini. (Andi)

Check Also

seniman mengajar kemendikbud

Pendaftaran “Seniman Mengajar” di Daerah Terpencil Mulai Dibuka

Edupost.id – Pendaftaran kegiatan “Seniman Mengajar” yang digagas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun ini …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *