Senin , 29 Mei 2017
Home / Profil Inspiratif / Amin, Mahasiswa Semester 4, si ‘Pengedar’ Buku

Amin, Mahasiswa Semester 4, si ‘Pengedar’ Buku

Edupost.ID, Yogyakarta – Zaman sudah modern. Buat apa jual buku? Paling-paling sepi pembeli. Orang zaman sekarang ‘kan lebih suka buka gadget daripada baca buku-buku tebal. Pernahkah Anda terpikir seperti itu? Amin Sahri, seorang mahasiswa semester 4 Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta telah mematahkan anggapan itu. Ternyata masih banyak orang yang membutuhkan buku. Bagaimana ia tahu?

Mahasiswa yang akrab disapa Amin ini berjualan buku sejak sebelum kuliah. Dia mulai usahanya dengan menjajakan koran. Amin menjadi ‘pengedar buku’ ketika dia kuliah. Namun di awal, usahanya mengalami kesulitan. Peminat sepi, tugas kuliah menumpuk, dan setiap hari ia harus posting di media sosial. Sangat menguras waktu dan tenaga.

Hingga akhirnya cahaya itu muncul di bulan ke-4. Sekitar 4 bulan ia kuliah, usahanya mulai ramai. Orang-orang mulai mengenalnya sebagai pengedar (baca: penjual) buku.

Pernah suatu ketika Amin hendak mengantar buku ke Jalan Kaliurang KM 6,5. Padahal kosnya di daerah UIN dan tidak ada motor. Amin sudah mencoba menanyakan dari kamar kos ke kamar kos.

“Wah, maaf motornya mau dipakai.” Selalu itu jawaban dari kawan kosnya. Tapi kiriman buku ini tidak bisa ditunda hingga besok, pikirnya. Akhirnya dia mendapatkan pinjaman sepeda. Itupun sepeda onta.

Tanpa pikir lagi, ditaruhnya setumpuk buku di boncengan sepeda. Tingginya hampir menyamai kepala Amin ketika duduk di sepeda. Tidak hanya itu, masih ada satu tas ransel berisi buku yang dia gendong di depan. Berjalanlah roda itu dari UIN menuju daerah Taman Makam Pahlawan, kemudian ke daerah perempatan Sayyidan, belok kiri ke arah Jogjatronik, dan lurus terus hingga Jalan Parangtritis.

Di jalan Amin sering ditegur, “Mas, itu miring ke kiri.” Sepanjang perjalanan Amin terus berdzikir. Berdoa agar dia dan buku-bukunya selamat sampai tujuan. Tak ingin ia mengecewakan pelanggan. Meski hati terus was-was, namun kaki tak berhenti menghempas.

Amin punya kisah lain. Anda tahu Asma Nadia? Penulis cerita Tukang Bubur Naik Haji. Nah. Asma Nadia pernah mengirim sms ke Amin. Apa yang dia lakukan? Beliau memesan buku ke Amin. Ketika itu seperti biasa, Amin mendapat sms, kemudian membalas, namanya siapa dan alamat lengkapnya di mana? Begitu takjub Amin ketika tahu ternyata Asma Nadia yang memesan. “Tapi dikirim ke kantor ya, ke toko buku saya. Soalnya saya jarang di rumah,” kurang lebih begitu bunyi smsnya.

Amin tidak tahu Asma Nadia dapat nomor dari mana. Kemungkinan dari grup Facebook, karena Amin sering mempromosikan bukunya di sana. (Nurfi)

Check Also

UGM Buka Ajang Bisnis Pemuda ASEAN, AYSPP 2017

UGM Buka AYSPP, Ajang Bisnis Pemuda ASEAN

Edupost.id – Kompetisi bertaraf internasional, ASEAN Youth Socialprenuership Program (AYSPP) yang digelar Universitas Gadjah Mada (UGM) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *