Kamis , 23 November 2017
Home / Profil Inspiratif / Atlet Tunarungu UNJ Berprestasi Hingga Kancah Internasional

Atlet Tunarungu UNJ Berprestasi Hingga Kancah Internasional

Priyaka Irfan Atlet Tunarungu
Priyaka Irfan Atlet Tunarungu (foto : taekwondoind)

Edupost.id – Meski memiliki keterbatasan fisik, mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Priyaka Irfan Astama Harsono berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Atlet tunarungu ini telah berkali-kali meraih berbagai prestasi dalam kejuaraan taekwondo cabang poomsae.

Pria yang akrab disapa Ipang ini, mengawali karier taekwondo pada usia 9 tahun dengan mengikuti sebuah klub taekwondo bernama Dharma Putra Club. Sebelumnya dia juga sudah mencoba berbagai macam olahraga seperti berenang, softball , dan sepak bola. Namun dari semua olaharaga itu hanya taekwondo yang Ipang suka.

Ipang mengaku, merasakan kepuasan tersendiri saat menggeluti taekwondo. Tidak hanya itu, dia juga dapat berprestasi seperti anak-anak normal lainnya. Sebelum turun ke nomor poomsae, atlet kelahiran Surabaya, 24 Januari 1994 ini mengikuti nomor kyorugi (cabang tarung). Namun saat itu wasit belum memakai gerakan tangan sehingga membuat Ipang kewalahan.

Pernah suatu ketika usai pertandingan, Ipang babak belur karena mengikuti pertandingan itu, sehingga dia harus digendong sang ayah untuk berpergian. Di sekolah pun dia harus dipapah oleh temannya untuk mencapai kelas. Karena pengalamannya itu, dia beralih ke nomor poomsae. Namun, pilihan Ipang memang tidak salah. Tak lama setelah itu, dia meraih banyak kemenangan dalam nomor poomsae.

Pada 2010, putra tunggal dari pasangan Sony A Harsono dan Sumastinah Puji Astuti ini berhasil mewujudkan impiannya untuk menjadi atlet taekwondo nomor poomsae terbaik di DKI Jakarta hingga saat ini. Setelah mendapatkan predikat tersebut, dia kembali mendapatkan kesempatan untuk menjadi atlet tunarungu pertama Indonesia yang mengikuti kejuaran di luar negeri yaitu Deaflimpic (kejuaraan khusus untuk penyandang tunarungu) ke-22 yang diselenggarakan di Sofia, Bulgaria pada tahun 2013.

Ipang pun masuk peringkat ke-7 dunia, Male Poomsae Individu World Deaf Taekwondo, per December 2013. Saat tahun 2015 dia harus pergi ke Turki untuk perlombaan, namun dia tidak jadi pergi karena mengalami kecelakaan. Pada tahun 2016 lalu dia juga harus merelakan kesempatannya lagi untuk pergi ke Korea, karena saat itu sedang terjadi kudeta di bandara negeri itu.

Selain berprestasi dalam bidang taekwondo, Ipang juga beprestasi dalam bidang desain grafis. Tidak hanya sampai di situ, Ipang juga sering menjadi pembicara dalam seminar. Salah satunya adalah Seminar Pemahaman Konsep Anak Berkebutuhan Khusus di Jakarta. Dia senang berbagi cerita dan memberikan motivasi kepada semua teman-temanya yang tunarungu. Dia berharap semoga kisahnya dapat menjadi inspirasi dan membuat semangat anak-anak berkebutuhan khusus untuk berprestasi lebih banyak lagi. (UNJ/Ani)

Check Also

ITS Borong Dua Gelar Juara di Ajang NUDC 2017

ITS Borong Dua Gelar Juara di Ajang NUDC 2017

Edupost.id – ITS mendapat dua gelar juara dalam kompetisi debat Bahasa Inggris, National University Debating …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *