Rabu , 18 Oktober 2017
Home / Profil Inspiratif / Berusia 24 Tahun, Grandprix Jadi Doktor Termuda Indonesia
Berusia 24 Tahun, Grandprix Jadi Doktor Termuda Indonesia
Berusia 24 Tahun, Grandprix Jadi Doktor Termuda Indonesia

Berusia 24 Tahun, Grandprix Jadi Doktor Termuda Indonesia

Edupost.id – Mahasiswa S3 ITB, Grandprix Thomryes Marth Kadja (24), dinobatkan menjadi doktor termuda. Grandprix dinyatakan lulus dengan predikat cum laude melalui sidang terbuka yang digelar di Gedung Annex Rektorat ITB, Jumat (22/9). Lantaran prestasinya ini, Grandprix tercatat memecahkan rekor MURI sebagai pemegang gelar doktor termuda di Indonesia.

Dilansir dari laman resmi ITB, pria kelahiran Kupang ini bercerita bahwa ia masuk SD pada umur 5 tahun dan lanjut ke kelas akselerasi di SMA. Usianya baru 16 tahun saat masuk kuliah S1 Kimia Universitas Indonesia. Lulus S1 di umur 19 tahun, ia melanjutkan S2-nya dalam bidang yang sama di ITB. Saat kuliah itu, ia meraih beasiswa pendidikan magister menuju doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) Kemenristekdikti.

Selama studi S3 di ITB, waktu yang ada digunakan untuk melakukan penelitian secara penuh. Dalam disertasinya, ia mengangkat topik tentang zeolite sintesis, mekanisme, dan peningkatan hierarki zeolit ZSM-5.

Di bawah bimbingan Dr. Rino Mukti, Dr. Veinardi Suendo, Prof. Ismunandar, dan Dr. I Nyoman Marsih sebagai promotornya, Grandprix menjelaskan bahwa secara garis besar penelitiannya tersebut berfokus pada material yang banyak dipakai di industri seperti petrokimia dan pengolahan biomassa.

Capaian luar biasa Grandprix ini tak lepas dari kerja keras dan keinginan yang kuat dalam meraih mimpi. Diakui oleh pria yang telah menerbitkan 9 publikasi ilmiah berskala nasional dan internasional ini, bahwa jalannya selama masa penelitian-penelitian tidak selalu mulus.

“Proses yang sulit dan memakan waktu menjadi kendala. Atau jika ada instrumen analisis yang tidak tersedia atau hasil penelitian yang tidak sesuai ekspektasi,” tambahnya.

Kendati demikian, kecintaannya pada bidang yang ditekuninya ini membuatnya tetap menjalani segala sesuatu, baik suka maupun duka, dengan senang hati. Kepuasan tersendiri, aku Grandprix, terutama ketika hipotesisnya berhasil dibuktikan.

Lebih lanjut terkait prestasinya, Grandprix berharap akademisi Indonesia dapat ikut terdorong untuk memajukan dunia penelitian yang dimotori oleh orang-orang muda Indonesia. “Jangan minder karena masih muda. Justru (yang muda) yang harus menjadi contoh bagi orang lain,” ujarnya.

Selain itu, ia juga ingin agar program-program beasiswa seperti PMDSU dapat diteruskan eksistensinya dan diperbesar skalanya untuk menjaring peneliti dan doktor Indonesia dengan kemampuan dan daya saing kualitas internasional. (Andi)

Check Also

Tim ITB Borong Gelar Juara dalam Kompetisi Geosphere 2017

Tim ITB Borong Gelar Juara dalam Kompetisi Geosphere 2017

Edupost.id – Tiga tim yang terdiri dari mahasiswa Teknik Geofisika ITB memborong predikat juara dalam …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *