Kamis , 21 September 2017
Home / Profil Inspiratif / Demi Mengajari Anak Suku Baduy, Wanita Ini Rela Digaji Kecil hingga Dikejar Anjing Liar

Demi Mengajari Anak Suku Baduy, Wanita Ini Rela Digaji Kecil hingga Dikejar Anjing Liar

EDUPOST.ID – Meskipun Indonesia telah mengalami banyak kemajuan dan mendapatkan pengaruh modernisasi, di daerah pedalaman kota Banten ternyata masih ada kelompok Baduy muslim yang masih belum tersentuh pendidikan.

Hal inilah yang mengetuk hati seorang wanita yang akrab disapa Ibu Ai (42) hingga ia bersedia datang membawa misi pendidikan ke daerah pedalaman tersebut. Kini ia telah  mengabdi di sebuah sekolah di Desa Cicakal Girang selama 22 tahun.

Ai memperoleh upah Rp550 ribu per bulan dari dua sekolah yang ditanganinya. Walaupun ia hanya digaji kecil, Ai tetap menyisihkan sebagian uangnya untuk menunjang pendidikan nonformal yang digagasnya untuk memberantas buta huruf di kawasan Baduy.

Dana itu ia pakai untuk membeli perlengkapan belajar bagi orang yang diajarnya. Ia biasanya mencegat para perempuan yang pulang bekerja. Selain itu, ia juga membuka kelas khusus di malam hari.

“Pada dasarnya orang Baduy itu pintar semua,“ ujar Ai.

Ai menceritakan, sebelumnya tidak ada yang bertahan lebih dari satu tahun mengajar di sana karena lokasinya yang masih dikelilingi hutan belantara.

Ia juga harus menghadapi ancaman dan tekanan dari kepala suku yang menentangnya. “Sampai sekarang saya masih kucing-kucingan. Jadi, kalau sedang dicari, saya setop dulu semuanya,“ jelas Ai.

Lingkungan alam yang masih berupa hutan belantara memberikan pengalaman buruk bagi Ai. Saat hendak mengajar dari desa ke desa, Ai pernah dikejar anjing liar.

Demi menghindar dari kejaran anjing liar itu, Ai sampai mencemplungkan dirinya ke dalam sungai. “Saya pikir saat itu saya akan mati,“ ungkap Ai.

Meskipun banyak tantangan dan kesulitan yang ia temui selama mengabdi di sana, ada hal indah yang ia juga dapatkan. Ai bertemu dengan belahan jiwanya, Asmad Hidayat. Seorang dai yang baru dikenalnya selama tiga hari.

Saat itu Ai dan Ahmad sering bepergian dari satu desa ke desa lain layaknya partner kerja. Karena itu, untuk menghindari fitnah mereka pun sepakat untuk menikah. “Saking kilatnya, bahkan di KUA saya sampai lupa nama dari calon suami saya,“ tambah Ai. (IL-SS)

Check Also

siswa sd ikuti pesantren kilat ramadhan

Pendidikan Bukan Hanya untuk Cetak Anak Pandai

Edupost.id – Pendidikan seharusnya bukan hanya mencetak anak pandai secara akademis. Pendidikan justru diharapkan dapat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *