Jumat , 26 Mei 2017
Home / Profil Inspiratif / Desi Priharyana, Demi Sekolah Ia Rela Berjualan Slondok
Desi “Slondok” Prihayana, Demi Sekolah Ia Rela Berjualan Slondok

Desi Priharyana, Demi Sekolah Ia Rela Berjualan Slondok

Edupost.Id, Sleman – Pada saat sebagian masih terlelap tidur, Desi “Slondok” Prihayana sudah memulai aktivitas rutinnya. Siswa SMKN 2 Yogyakarta ini bergegas menyiapkan perlengkapan sekolah layaknya siswa lainnya. Tapi ada yang berbeda, selain peralatan sekolah, Desi juga menyiapkan barang dagangan berupa slondok.

Tidak heran, karena pelajar kelahiran Sleman, 8 Desember 1995 ini memang setiap harinya juga berjualan slondok secara berkeliling. Dengan sepeda onthel kesayangannya yang dipasangi rombong berisi aneka barang dagangan, ia menyusuri jalanan Yogyakarta di pagi hari untuk menuju sekolahnya di Jalan AM Sangaji, Kota Yogyakarta. Bersepeda sejauh 12 kilometer dari rumahnya, di Dusun Toino, Desa Pandowoharjo menuju sekolahnya  menjadi rutinitas paginya.

Dalam perjalanan menuju sekolah, tak jarang dia dicegat oleh beberapa langganannya yang sudah menunggu untuk membeli slondok, camilan tradisional yang terbuat dari singkong.

Ditemui di rumahnya, Desi didampingi ayahnya, Kamto, bercerita tentang sejarah hidupnya. Aktivitas berjualan ini sudah dilakoni Desi sejak dia masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu Desi yang masih duduk di kelas tiga SD melihat tetangganya yang laris berjualan roti. Melihat itu Desi tertarik untuk berjualan roti di sekolahnya. Awalnya ia membawa 10 buah roti, ternyata dagangannya laris.

“Dari situ tambah jadi 30 roti, tapi karena pabrik rotinya di Solo bangkrut, jadi ganti jualan yang lain, sampai terakhir jualan slondok,” tutur Desi ketika ditemui Edupost.ID di rumahnya Rabu (16/12).

Dikatakan Desi, demi sekolah dan biaya hidup keluarganya dia harus menjalani usahanya ini. Setiap harinya Desi membawa sekitar 30 bungkus slondok di dalam krombong-nya. Seharian, ia bisa menghabiskan seluruh dagangannya, terkadang ia juga masih harus membawa pulang sisa dagangannya. “Namanya jualan nggak mesti habis,” kata Desi.  Harga satu bungkus slondok dijual Rp 10.000.

Ditanya tentang cita-cita mengembangkan usahanya, Desi mengatakan memang berencana mendirikan pabrik pengolahan slondok sendiri setelah lulus SMK. “Kalau sekarang waktunya belum ada, nanti kalau sudah lulus pengen saya kembangkan usaha ini,” ujar Desi.

Meski demikian, Desi juga berharap, setelah lulus sekolah dia bisa melanjutkan ke perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Dia mengatakan, jika ada kesempatan untuk melanjutkan ke pendidikan lebih tinggi dia akan memilih UGM sebagai tempatnya belajar.

Kamto, ayah Desi menambahkan, anaknya ini memang sejak kecil sudah berinisiatif berjualan. Menurutnya, sejak ia mengalami kecelakaan pada bulan Ramadhan yang lalu, ia hanya dapat mengandalkan penghasilan dari usaha anaknya itu. (Andi)

Check Also

UGM Buka Ajang Bisnis Pemuda ASEAN, AYSPP 2017

UGM Buka AYSPP, Ajang Bisnis Pemuda ASEAN

Edupost.id – Kompetisi bertaraf internasional, ASEAN Youth Socialprenuership Program (AYSPP) yang digelar Universitas Gadjah Mada (UGM) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *